Adil

Ada banyak permenungan, air mata, rasa frustasi, kekesalan hingga kemarahan untuk sampai di kesimpulan ini. Tak terhitung ketegangan, kekecewaan, perseteruan yang terus dan terus dirasakan untuk bisa sampai di kesadaran ini, di pengertian ini dan di penerimaan ini.

Bahwasanya,

Satu-satunya keadilan yang bergantung sepenuhnya pada diri adalah keadilan dari dan untuk diri sendiri.

Percayalah, dunia akan selalu punya celah ketidakadilan dalam memperlakukan kita. SELALU. Dari hal-hal remeh temeh yang terasa “ya sudah lah”, hingga hal-hal di luar nalar yang tak pernah mampu kita pahami mengapa hal tersebut diperbolehkan terjadi dan menimpa kita. Baik yang dipatik oleh etnis, agama, gender, pilihan hidup, kesempatan hingga nilai-nilai yang dipilih.

Setelah naik turun yang dialami di perjalanan umur yang tidak lagi terbilang muda, saya sampai pada kesimpulan, semakin cepat kita menyadari dan menerima kenyataan ini, semakin cepat kita mampu bergerak dan mencari strategi. Keadilan bagi seluruh insan dan makhluk hidup adalah perjuangan panjang yang akan terus diusahakan hingga nanti saya tutup usia. Ini perjalanan panjang yang akan terus diusahakan dari masa ke masa, dari generasi ke generasi dengan berbagai topik yang beragam.

tapi..

Ada satu keadilan yang sebagai pribadi ada di tangan kita. Keadilan bagi diri sendiri. Seberapa adil kamu pada dirimu? Apa kamu sudah memberikan waktu dan ruang yang cukup untuk dirimu? Seberapa banyak tuntutan yang kamu gantungkan pada diri tanpa pernah memberinya dukungan? Apa kamu mengapresiasi diri selayak dan sepantasnya untuk tiap keberhasilannya? Apa kamu pernah menjadi pengacara yang bijak atau sekedar menjadi hakim paling kejam untuk dirimu? Seberapa adil kamu memandang diri dalam segala kesalahan dan pembelajaran yang dilakukannya? Apakah hukuman yang kamu berikan untuk dirimu selaras dan seimbang? Apa kamu masih terus menghukum diri untuk kejadian yang terjadi bulan lalu, tahun lalu atau bahkan puluhan tahun lalu?

Fiuhhh…

Menulis ini cukup untuk membuat mata saya berkaca-kaca yang tanpa perlu diucapkan dalam kata-kata sudah menjadi pertanda jawaban untuk sebagian pertanyaan di atas. Bahwa saya masih punya pekerjaan panjang untuk belajar dan berlaku adil pada diri sendiri.

Semoga, setelah masing-masing kita mampu berlaku adil pada diri sendiri maka keadilan tersebut tak lagi butuh diperjuangkan karena ada lekat dan terpancar dari masing-masing diri.

Ya, semoga.

Bandung, 2026-6-13

ivy


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *