Seminggu terakhir ini ada banyak hal yang melintas dan berkelindan di kepala. Tentang ruang berkarya lama Kamantara yang memanggil untuk diaktifkan kembali, tentang beberapa permenungan yang mulai menemukan muara, tentang TFH yang semakin dipelajari semakin membuat terkesan, ditambah tulisan-tulisan Etgar Keret yang selalu mampu memantik banyak hal di kepala. Berita baiknya, layaknya lampu natal kepala ini meriah dengan berbagai warna-warni dan waktupun berjalan dengan begitu cepat.
Bangun pagi penuh semangat karena ada banyak hal yang menanti untuk diekseksusi. Excited! Saya lupa kapan terakhir merasakan hidup semeriah dan semenyenangkan ini. Padahal nih ya, kalau ditilik dan dipikir-pikir lagi tidak ada perubahan besar di hidup saya. Eitss… sabar, maksudnya tidak ada perubahan fisik yang terlibat semacam rumah baru, mobil baru, mobil baru, kerjaan baru, atau boobs dan hidung baru. Eh…
Dipikir-pikir nih ya, aneh juga ya. Ternyata di luar sini, di kenyataan yang saya hidupi tidak ada yang benar-benar berubah. Jadi artinya yang berubah apa dong? Ada hening yang mengikuti bersama dengan suara kicauan burung yang bernyanyi di ujung ranting pohon.
Oh.. Saya yang berubah. Bukan perubahan fisik, tapi sesuatu di dalam sini. Perubahan sunyi. Di tengah dada yang masih berdetak dengan detak yang selalu sama ada cara pandang baru tentang dunia. Bak sinar matahari di pagi hari yang membuat apapun yang diterpanya terasa hangat dan menyenangkan, begitu saya ingin memandang dunia. Bukan dengan sinar matahari jam 12 siang yang mengigit kulit dan memamerkan kekuatan dan kemampuannya.

Memang ya omongan Bashar (Darrly Anka) itu benar adanya, bahwa kita tidak dapat menyelesaikan masalah di state atau frekuenzi yang sama ketika masalah itu dibuat. Butuh usaha, pengertian, keyakinan untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi dan melihatnya dengan mata dan hati yang lebih lebar. Kemudian baru kita mampu mengerti dan memahami bahwa hidup ini permainan dan kita lah pemain utamanya.
Ada hal-hal yang tak mampu kita rubah, namun bagaimana kita bereaksi kontrol sepenuhnya ada di diri. Kita punya kendali penuh untuk bagaimana kita ingin permainan ini berjalan. Pilihan ada di kita, menjalaninya dengan drama dan air mata sembari merasa selalu menjadi korban atau dengan suka cita dan mata seorang anak kecil yang haus akan keseruan.
Semuanya di tangan kita, bukan di tangan tetanggamu, di tangan pasanganmu, di tangan iparmu, di tangan saudaramu, di tangan orang tuamu, di tangan bos mu, di tangan temanmu, melainkan di kedua belah telapak tanganmu, di jantung hatimu.
Bandung, 2026-06-16
ivy

Leave a Reply