(Not so) CNY

Merayakan tahun baru cina jauh dari rumah memberi campuran rasa yang beragam. Ada sedih dan haru, ada kerinduan yang mendalam, ada ucapan syukur, ada lega, ada bahagia, poket-poket kecil yang membuat saya merasa lebih hidup.

Banyak pertanyaan yang datang ketika mengetahui saya sedang berlibur namun tak memilih untuk kembali ke rumah, “mengapa tak merayakan tahun baru di kampung halaman? ” begitu semua orang bertanya

Jujur tiket liburan kali ini saya beli jauh hari sebelumnya, tanpa berpikir banyak karena harganya yang begitu menggoda. Sempat berpikir untuk merubah tujuan menuju rumah, namun ada asa dan rasa yang sulit dijelaskan. Ada kebutuhan untuk memiliki quality time dengan diri.

Hampir setahun terakhir ini, hidup tak semanis gulali, hidup tak senikmat yang mereka lihat, banyak pergulatan dan permenungan mendalam yang semoga bisa jadi pendewasaan. Saya butuh spasi, saya butuh jedah dari semuanya. Saya butuh ruang sekedar untuk duduk, bernafas dan menilik apa yang telah terjadi. Menyadari luka-luka baru, mengobatinya sebelum kembali berjalan lagi.

Di perjalanan kali ini, saya membawa banyak asa dan rasa yang selama ini dipendam dan sekarang mulai menyesaki kepala dan memberatkan hati, menuntut waktu untuk didengarkan. Maaf jika tak memilih rumah kali ini, janji saya akan segera pulang dalam waktu dekat. Sertai saja saya dengan doa dan dukungan tulus kalian, semoga semesta merestui kepulangan ini.

image

                                     Taken at Maesalong, thailand

新年快乐!

Chiang rai, 2015-2-19
Ivy
*biru belajar mengakui rasa

Posted from Negeri Biru


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *