Enggan

Memikirkan itu tidak sama dengan mengerjakan loh…” bisik suara di kepala dengan lembut namun tegas

#Deg

Potongan kalimat ini terngiang-ngiang dan tinggal berlama-lama di kepala seminggu terakhir. Seperti jepretan karet pada kulit, kalimat pendek ini membangunkan. Cukup untuk membuat saya kembali merasa-rasa dan menakar ulang tentang berbagai kebiasaan lama yang sering kali tanpa tersadari menelusup lagi ke rutinitas.

Seberapa sering sih kita urung melakukan sesuatu karena perhitungan di kepala? Memutar berbagai skenario panjang tentang proses aksi dan reaksi yang masih entah lalu belum-belum dikerjakan sudah merasa berat dan enggan dengan segala kemungkinan (buruk) atau kesulitan yang terpikirkan sehingga berujung tidak mengerjakan apapun.

Setelah dipikir-pikir, perhitungan dan keengganan yang sering menghinggapi saya ini bersumber dari ketakutan untuk berbuat salah. Berakar dari pola pikir, “gimana kalau A, gimana kalau B dan segala kalau-kalau lainnya”. Skenario kalau-kalau ini tentu saja punya berbagai cabang yang jika terus digali rasio tentu saja tak terhingga. Semacam spiral tanpa ujung yang terus berputar-putar, namun tak ke mana-mana. Merasa melakukan sesuatu, padahal itu hanya semu. Fiuhhh…

Saya sendiri belum menemukan obat paling efektif untuk menangkal kebiasaan ini, selain belajar untuk cepat-cepat sadar setiap kali ia muncul. Ketika kepala mulai menawarkan skenario “what if…” belajar dengan cepat untuk menghentikannya. Mengembalikan diri pada kini, karena kecemasan itu ada pada nanti dan berkata dengan lantang pada diri, “Jika memang nanti itu terjadi, maka saya akan memikirkannya di saat itu benar-benar terjadi.”

Paniknya nanti saja jika memang harus panik. Sedihnya nanti saja kalau memang harus sedih. Marahnya nanti saja itupun kalau memang harus marah. Kecewanya nanti saja kalau memang yang terburuk benar terjadi. Saat ini, semuanya belum tentu terjadi, lalu buat apa membuang energi dan tenaga memikirkannya?

Sekarang, mari mengerjakan yang bisa dikerjakan ketimbang hanya berkutak di kepala dan tidak mengerjakan apa-apa. Karena memikirkan semua skenario di kepala tak meringankan PR yang harus kamu kerjakan. Kita belum punya kemampuan super untuk bisa mengerjakan hanya dari pikiran saja. #eh

Mari bangun dan lakukan yang harus dilakukan.

Hadapi yang harus dihadapi.

Semesta selalu menyertai.

Bandung, 2025-09-26

ivy


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *