“Anak kecil itu pemaaf dan pelupa, kita manusia dewasa yang mengajari mereka berbeda..” tulis saya sore ini ketika seorang teman baik membagikan curahan hatinya tentang betapa kecewanya dia pada diri sendiri karena menghardik anaknya yang berusia 4 tahun hingga menangis tersedu-sedu.
Keluhnya, sang bocah demam tinggi pada malam sebelumnya, namun bangun dengan energi baru dan menerebas segala kata “hati-hati dan “jangan” yang diucapkan kedua orang tuanya yang tentu saja masih was-was dan khawatir dengan kondisinya. Alhasih setelah beberapa teguran ringan yang tak dihiraukan, muncullah teriakan murka dari sang bunda yang dengan sukses membuat sang anak menangis.
Sebagai perempuan yang tidak memiliki momongan, sebenarnya selain mendengarkan dengan utuh tak ada masukan yang mampu saya sampaikan. Hanya mampu menyampaikan fakta bahwa umur balita adalah fasa di mana sang anak secara konstan mencobai batas-batas yang ada.
Hal semacam ini sebenarnya kejadian sehari-hari yang tak terelakan bagi orang tua manapun. Sang anak sendiri setelah selesai menangis tersedu-sedu kemudian tertidur pulas dan bangun tanpa punya perasaan berat. Berbeda dengan sang ibu yang masih saja dihantui dengan rasa bersalah.
Kisah ini kemudian mengelitik saya lebih jauh untuk melebarkan pandangan, mungkin menjadi orang tua itu notabennya tak hanya untuk sang anak. Dalam proses menemani sang anak belajar dewasa, kita yang katanya insan dewasa ini diberi kesempatan kedua untuk menjadi kanak-kanak tak berdosa yang dengan mudah melupakan, belajar untuk memaafkan dan menerima semua ketaksempurnaan kita.
Meminjam mata dan hati mereka yang jernih untuk melihat diri kita yang murni sekali lagi. Memaafkan semua salah langkah yang ada dan menerima bahwa sempurna bukan tujuan akhir. Bahwa yang utama adalah ADA di sisi mereka, menemani, menciptakan ruang tumbuh yang aman dan nyaman untuk orang tua dan kanak. Lalu terpenting menerima dirimu yang adalah bagian darinya apa adanya.
Selamat berproses kawan!

Bandung, 2025-8-9
ivy


Leave a Reply