What you wish

Minggu lalu, saya dan dua orang sahabat akhirnya mampu menemukan waktu, tempat dan energi untuk bisa berkumpul. Setelah nyaris setengah tahun tidak bersua, tentu saja ada banyak sekali perintilan hidup yang kami bagikan. Di perbincangan yang penuh dengan cerita, drama dan likuan kehidupan itu, kami sampai di sebuah kesimpulan yang manis.

Lepas dari segala lika liku dan jalanan berbatu yang sekarang sedang dilalui, rupanya kami masing-masing sedang ada di jalur yang kami inginkan, yang kami mimpikan. “Be careful with what you wish…” ucap saya bukan sekedar untuk para sahabat tapi juga sebagai pengingat untuk diri sendiri.

Momen perhentian dan permenungan semacam ini memang butuh lebih sering untuk dijadwalkan. Semacam istirahat singkat di kala pendakian, untuk melihat lagi sudah sejauh mana kita mendaki dan di mana tujuan yang ingin dicapai. Apa memang ini bagian tak terpisah dari jalur mimpimu?

Bermimpi dan berharap itu satu hal, tapi mendapatkan apa yang kita mimpikan dan kita harapkan seringnya menyertakan cerita lain yang tak seindah bayangan. Kita berharap “hadiah” tersebut datang seperti pesanan online yang diantarkan langsung ke depan pintu rumah masing-masing. Untungnya, semesta tak semembosankan itu kawan. Seringnya “mewujudnya mimpi dan harapan” itu sepaket dengan perjalanannya yang seringnya penuh kejutan.

Ibarat berharap bisa mahir berenang, tentu saja tempat terbaik untuk berlatih adalah lautan bebas. bukan? Maka jika kamu menemukan dirimu sedang menghadapi badai yang menggoncang, coba ingat-ingat lagi doa besar apa yang sedang dipintal semesta untuk segera menjadi nyata.

HOLD ON, dear. The universe have your back.

Bandung, 2025-07-29

ivy


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *