“One page a day keep the drama away…” terbaca di salah satu halaman pembuka jurnal lusuh saya dari tahun 2020. Mantra penyelamat yang tersemat hampir di seluruh jurnal saya di tahun tersebut dan 2 tahun selanjutnya. Kalimat penguat yang membuat saya waras melewati fasa tergelap dari hidup saya. Memandangnya penuh haru dan dengan sepenuh hati mengusap-usap coretan-coretan usang tersebut dan mengucapkan terima kasih.

Lembar-lembar jurnal inilah yang menemani saya melewati masa berkabung kehilangan mama sekaligus masa-masa pandemik. Di tahun 2020 hingga tahun 2021, saya tak pernah alpa untuk menulis dan memuntahkan rasa dan asa saya ke dalam lembar-lembar jurnal ini. Menjadikan proses menulis jurnal ini seperti obat yang harus saya makan setiap hari demi memastikan kewarasan pikiran. Pada coretan-coretan tersebutlah segala drama rekaan diluruskan dan dirapikan sehingga tak menyesaki kepala.
Berkesempatan membuka-buka kembali lembar-lembar buku jurnal lama, ada rasa hangat yang menjalar. Seperti melihat potongan film pendek-pendek, yang sambung menyambung tanpa rencana. Roller coaster rasa yang berubah dari minggu satu ke minggu selanjutnya terpatri tanpa polesan dan apa adanya.
Hiasan-hiasan yang dulu ada kini mulai berubah warna, termasuk perasaan sang empunya yang kini punya kaca mata baru dalam menakar dan memandang hidup. Proses memandang yang justru muncul dari cicilan kata, cicilan coretan cicilan tarikan dan cicilan goresan dari semua lembar-lembar jurnal usang ini. Proses panjang berlatih yang membuahkan hasil sedikit kebijaksanaan. Proses terus menerus yang membantu mendewasakan diri untuk berkaca dan akhirnya menerima yang harus diterima dan melepaskan yang di luar kendali.
Mantra penyelamat lama ini kini berubah fungsi, alih-alih menjadi obat yang wajib di minum kini ia menjadi kebiasaan yang jika tidak dilakukan akan dirindukan oleh pikiran. Menjadi kebahagiaan sekaligus kebanggaan bahwa kemampuan menulis (jurnal) telah menyelamatkan saya di saat-saat tergelap dan untuk itu ingin saya lanjutkan di seumur hidup saya.
Dari menulis (jurnal) saya punya kaca yang jelas dalam memandang hidup, punya ruang yang lebih lapang dalam meregulasi emosi, punya sudut aman untuk jujur dan membalut luka. Maka selamanya saya berhutang terima kasih pada kemampuan luar biasa ini.

Saya menulis (jurnal) maka saya ada.
Bandung, 2025-07-10
ivy


Leave a Reply