Jujur

Sebuah kata yang sering digunakan di mana saja dan kapan saja. Sebenarnya apa sih kata jujur itu
sendiri? Seberapa perlu seseorang untuk jujur? yaa…tanpa bermaksud mengagung2kan kebohongan
juga sih.. Dan ga munafik juga saya pasti pernah berbohong.hahaha…

Tiba-tiba saja kata itu tercantol di otak saya dan membuat saya berpikir cukup lama.. menimbang ,
melihat, merasa-rasa, menerka-nerka, walau sampai sekarang tetap saja tak pasti akan apa arti kata tersebut. Seberapa perlunya kata itu kita agungkan? Pastinya ada toleransi tersendiri yang membuat timbulnya istilah “white lies” .
Tapi bukankah kadang kejujuran yang terlalu vulgar itu menyakitkan?
Bukankah hal itu juga yang menjadi salah satu poin pembeda seseorang dikatakan telah cukup dewasa dalam berpikir? Seorang anak kecil pasti akan dengan polos dan jujurnya berkata apa adanya, tanpa ada polesan pada maksud dan tujuannya. Sedangkan seorang yang telah mulai
tumbuh dewasa akan melihat betapa penting konteks tersebut. Sumtimes ada hal-hal tertentu yang enggan kita rusak hanya untuk sebuah kata jujur yang vulgar.
Kadang kita butuh memberi bantalan pada kata-kata jujur kita yang vulgar,
agar tak membuat orang lain terluka. Namun ada juga situasi yang mengharuskan kita untuk mempermak kejujuran itu agar lebih mudah dicerna.hmmm.. entahlah!

Saya sendiri sebenarnya tidak yakin dengan batasan di mana kata-kata vulgar tersebut boleh diungkapkan langsung atau memang harus disarung dengan pengaman terlebih dahulu. Tapi saya sendiri juga tahu betapa pentingnya sebuah kejujuran! Siapa yang ingin selalu mendengarkan kebohongan belaka?! Betapa menyakitkannya sebuah kebohongan! Ntah lar… hidup memang dipenuhi pilhan bukan, bahkan hidup itu sendiri yang merupakan pilihan. Anggap saja perihal jujur dan bohong ini sebagai salah satu dari pilihan yang harus kita pilih. hahaha…
Tapi satu yang pasti !! Jujur pada diri sendiri itu wajib hukumnya.. it’s a must!! Ga ada tawaran untuk white lies di sini. wkwkwkwkw…

Tapi si jujur itu bisa berdampak sangat beragam bagi kita-kita ini. Ambil contoh kasus seorang anak yang umurnya tidak lagi panjang. Saya baru saja sadar betapa berat dilema yang dihadapi ortu si anak tersebut! Apalagi jika anaknya masih sangat kecil! Gimana cara ngasi taunya? Apakah si anak sendiri berharap jika dia tau akan keadaan na tersebut? Mungkin bagi ortunya, lebih baik tidak membebani si anak dengan segala tetek bengek sekolah dan lain sebagainya, sedang bagi si anak mungkin ya..mungkin saja dia ingin menikmati sisa hidupnya seperti anak lainnya. rite?? Atau mungkin juga sebaliknya?Atau jika ditinjau dari sahabat si sakit tersebut? Betapa perlunya dia mengatakan kejujura? Bukankah kejujuran dan keterbukaan yang membedakan seorang sahabat dengan teman lainnya? Seandainya dia tetap menyimpan rahasia itu, apakah itu termasuk “white lies” ? hmmm… Sepertinya semua pandangan ini begitu relatif dan subjectif untuk tiap orang.
Ntahh lar..mungkin suatu waktu akan dikeluarkan buku yang menjelaskan hal-hal yang wajib dijawab dengan jujur atau boleh dijawab dengan setengah jujur. wkwkkw….
any idea? hahaha… i’m going crazy… ^^



Posted

in

by

Tags:

2 responses to “Jujur”

  1. Joe Avatar
    Joe

    Jujur ye… ini adalah sebuah pendapat yang dihasilkan dari penilaian individual yang terlalu dipertahankan tanpa mau melihat keobyektifitasan dari kejujuran itu sendiri. Penilaian ini betul dari sudut pandang tertentu, namun tidak dapat mewakili keseluruhan pembahasan dari kejujuran yang ada di sini. Jika penilaian sang penulis hanya dipertahankan dari sudut ini saja, tentulah sama saja menolak pemahaman lain yang akan mungkin didapatnya apabila mau membuka hati lebih lebar lagi. Sebuah semesta keberadaannya harus disadari secara luas. Jauh terlebih luas dari keleluasaan mata kita yang sekalipun menurut kita sangat luas ini. Ada banyak dimensinya. (You know what i mean) (“,)~~~*

  2. verseau Avatar

    i’d prefer “tersakiti oleh kejujuran daripada ternyamankan oleh kebohongan” 🙂
    sejauh pengalaman hidupku (d’oh, berasa tua banget 😛 ), apapun yang dilandasi dengan kejujuran (meskipun itu adalah kejujuran yang vulgar), it ended up nicely, meskipun perih & berdarah tetapi lebih bisa diterima-disadari-tidak menimbulkan dendam.
    dan white lies pun tetep aja sebuah kebohongan, no good 🙂
    lebih tepatnya mungkin jika dibilang “diplomasi” bukan white lies 🙂
    *lepas janggut memutih dan wig rambut awut-awutan penuh uban*
    😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *