[Diary]Cukup

“Dicukupkan segala kebutuhan…” setelah berpikir cukup lama, akhirnya saya sampai pada sintesis ini. Rasa-rasanya kata “cukup” adalah mantra baru yang paling selaras dengan tubuh. Dengan kata lain, tak perlu memiliki banyak yang penting ada ketika dibutuhkan.

Pembicaraan tentang goal dan tujuan hidup ini muncul kembali belakangan ini karena saya tengah menjadi siswa TFH (Touch For Health). Salah satu cabang ilmu kinesiologi terapan ini menitikberatkan pada kesadaran dan menggunakan goal sebagai suar untuk membuat tubuh dan mental bergerak secara holistik demi tujuan tersebut. (Cerita tentang betapa luar biasanya metoda ini akan saya jabarkan di tulisan terpisah. Tunggu ya!)

Kalau dipikir-pikir lagi, sejak belasan tahun lalupun saya tak pernah menjadikan sukses dan kaya sebagai tujuan hidup. Dari dulu tujuan saya cukup jelas, “I want peace”. Kalau coba diterjemahkan lebih dalam, sedari dulu yang saya inginkan adalah “ketenangan batin”.

Beberapa kejadian besar yang terjadi di hidup beberapa tahun belakangan cukup menggoncang jiwa, dimulai dari kehilangan ayah dan disusul dengan kehilangan ibu. Kehilangan kedua orang tua dalam selang lima tahun cukup untuk memporakporandakan sistem nilai dan cara berpikirmu termasuk mempertanyakan banyak hal.

Baru di dua tahun terakhir, pelan-pelan saya mulai menemukan lagi pijakan dan kembali melihat dan terhubung dengan tujuan lama yang ternyata masih selaras. Saya rasa tujuan itu juga yang membantu saya untuk menemukan TFH. Setelah melalui badai kehidupan, saya masih berpegang teguh pada tujuan lama yaitu kedamaian batin. Kini pandangannya menjadi lebih jelas, kedamaian itu muncul dari penerimaan akan kenyataan. Membiarkan segalanya mengalir sebagaimana adanya. Apa adanya.

Saya ingin menjadi titian pada air terjun, cerukan pada sungai yang mengalir. Bukan untuk menyimpan semuanya sendiri, tapi untuk menjadi bagian dari perjalanan berkah dan limpah semesta untuk semua. Menjadi ruang untuk melembutkan energi ruah yang jatuh, menjadi sudut untuk mengalirkannya ke area yang lebih luas. Berada dalam formula ini dengan sendirinya membuat saya cukup.

Berpengang pada pandangan ini, ada begitu banyak rasa syukur yang mulai bermekaran. Bahwa untuk merasa cukup, untuk menjadi cukup tak perlu menantimu memiliki rumah, memiliki tabungan miliaran, handphone terbaru, tas dan sepatu terbaru. Cukup hanya dengan merasa dan menyadari. Menarik satu helaan nafas lega dan sadar bahwa jantungmu masih berdetak, paru-parumu masih bekerja, kakimu masih berpijak pada bumi. Segala kecemasan yang kau pikir kebutuhan itu hanyalah semu bahwa kamu sudah dan akan selalu cukup.

Bandung, 2026-1-28

ivy



Posted

in

, , ,

by

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *