Beberapa bulan terakhir ada satu tema yang muncul berkali-kali di kepala yaitu tentang percaya dan mengikuti ritme semesta. Mengambang, meluncur bersama arus semesta, mengalir tanpa hambatan.
Saat itu yang saya bayangkan adalah segala hal baik pasti akan terjadi dan saya akan dijauhkan dari segala hal negatif. Seakan-akan dengan percaya saya punya jaket pelindung yang menjaga saya dari segala hal tak menyenangkan. Layaknya baju zirah yang menghindarimu dari segala hal menyakitkan.
TENG TONG… tak perlu waktu lama, kepercayaan ini segera dibenarkan semesta. Sebuah kejadian tidak menyenangkan yang terjadi kemarin, seakan menampar sekaligus menyadarkan bahwa bukan begitu cara kerja semesta.
Percaya dan berserah pada Semesta, bukan berarti tidak ada lagi hal tak menyenangkan di jalanmu. Namun percaya apapun yang diperbolehkan terjadi di perjalanan hidupmu adalah demi kebaikanmu. Entah keajaiban, pertolongan, kebetulan dan kesempatan sepaket dengan segala kesulitan, kekecewaan, kehilangan, dan ketidakadilan-nya yang sesekali menyertai.

Dengan mata sembab dan air mata yang masih mengalir di pipi, ada jalaran hangat ketika menyadari ini. Ada “oh” lirih yang keluar dari bibir dan senyuman yang mau tak mau menghiasi muka. Memandang dari POV ini, maka Semesta hanya membantu saya mengabulkan doa yang saya minta. Percaya padaNya. Percaya yang sepenuh dan sesungguhnya.
Masih dengan suara yang berat dan serak kemudian saya mengucap, terima kasih. Terima kasih untuk memperlihatkan beban berat yang semoga adalah beban besar terakhir yang perlu saya tinggalkan untuk kemudian bisa melayang dan terbang dengan arus Semesta.
Cigadung, 2026-05-15
ivy
*biru yang masih terus belajar percaya


Leave a Reply