[diary] Selangkah demi selangkah

“Edannnn… capek!” seloroh Farica sore ini di tengah tanjakan tinggi.

Saya hanya senyum-senyum, melihatnya dari atas. Meski sedikit mengomel, Farica tetap berjalan setapak demi setapak.

“Ya, jika dijalani setapak demi setapak ternyata sampai juga.” ujar saya membatin.

Rupanya ini tak berbeda dengan semua kejadian yang terjadi di dalam hidup. Buat siapa saja yang sedang ada di tanjakan hidup. Selangkah demi selangkah, itu saja.

Tak perlu langkah besar, tak perlu. Hanya butuh satu langkah demi satu langkah. Percayalah niscaya perjuangan kita akan berlabuh di tujuannya.

Siang ini ketika memasak nasi goreng tuna, saya merindukan ibu. Malam ini ketika menonton Taksu Ubud lagi-lagi saya merindukan sosok ibu yang biasanya menantimu pulang di gerbang. Kemudian saya sadar, bahwa kata-kata inipun berlaku untuk kerinduan saya akan ia yang hilang dan tak mungkin kembali. Untuk perjuangan saya merelakannya. Selangkah demi selangkah, itu saja.

Jangan tanya kapan, tapi teruslah melangkah. Satu langkah kecil di satu waktu, hingga luka ini menjadi kenang-kenangan yang bisa saya kenakan dengan bangga.

Karena seperti ucapan Christine Hakim dalam dialog Taksu Ubud

“Sang waktu memakan kita setiap waktu. Jangan menyesali yang berlalu dan jangan merindukan yang belum akan tiba.”

Bandung, 2021-07-06

Ivy

*biru yang merindukan ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s