[diary] Kerinduan-kerinduan

“To feel a sense of being care for, thought of, loved…” tulis Jay Shetty dalam bukunya Think like a Monk.

Perlahan-lahan mata saya menghangat dan dari sudut mata ada tetesan kecil yang segera menderas membasahi pipi.

*jleb

“This is it. This is what missing from my life this 435 days..” gumam saya dalam hati. Hal yang selama ini dilakukan ibu tanpa jeda dan tanpa bayaran selama hidupnya. Membagi-bagikan perhatian dan cintanya dengan hal-hal kecil sederhana, dengan panggilan yang sering saya acuhkan, dengan cerita kecil, dengan masakan yang dimasak, dengan mengingat pasti tanggal-tanggal penting administrasi yang tak seorangpun ingat.

Air mata saya semakin deras, pandangan saya makin buram. Ada kenangan-kenangan lama yang muncul dan memutar dirinya kembali di kepala saya. Hal-hal yang dulu saya anggap sebagai keribetan yang tak perlu ternyata tanpa saya sadari adalah bantalan empuk yang membuat saya mampu mendaki hingga setinggi ini.

“Oh ma, how much i missed you..”

Hal ini juga yang rupanya membuat kehilangan kali ini terasa begitu berat untuk dicicil. Seperti ombak, selalu ada potongan-potongan kesadaran baru yang dihantarkan di pesisir pantai penerimaan.

Hal-hal yang membungkus dan menjagamu meski tak pernah tersadari, hingga keberadaannya tak lagi ada di sana. Membuatmu terbangun di tengah malam dengan kebingungan dan kepanikan. Sebenarnya apa yang hilang?

Sudah setahun, tapi rasanya akan selalu ada rahasia-rahasia kecil yang dihantarkan semesta ke meja saya. Potongan-potongan teka teki kehilangan, yang mungkin tak semuanya dapat saya labeli tapi sungguh semuanya saya rindukan.

Cukup untuk membuat saya belajar lagi dan lagi, untuk membuat saya sadar lagi dan lagi, betapa banyak hal yang telah diberikan ibu untuk saya dan kini harus saya ramu dan cari sendiri racikannya.

Mungkin ini yang disebut pendewasaan. Merindukan yang dulu didapati secara percuma, merelakan yang tak mungkin akan kembali, memaafkan yang telah terlewati dan belajar meracik ramuan yang dibutuhkan. Belajar menjadi orang tua untuk dirimu sendiri.

Ma, kerinduan-kerinduan padamu pasti masih akan selalu mendatangi. Setiap kali ia datang, saya jadikan sebagai penanda untuk belajar mengerti betapa luar biasanya caramu menjaga saya dulu.

Bandung, 2021-5-23

Ivy

*biru yang sedang belajar menjadi orang tua untuk diri sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s