[Diary] Ber-pasang-an

Semua diciptakan berpasang-pasangan…” frasa yang sering didegungkan di pesta-pesta pernikahan ini tentu tak lagi asing di telinga.

Hari minggu lalu, saya sadar bahwa hal ini juga berlaku untuk tubuh kita. Berbagai organ yang ada di tubuh kita juga diciptakan berpasang-pasangan.

“Limpah itu yin..” ucap Suri di sesi Yin yoga kami pagi itu. Sembari berpasrah pada keterbatasan tubuh, saya mencoba mendengarkan. Yin yoga memang berbeda dengan Yang yoga. Jika di Yang yoga kita dituntut untuk mengaktifkan otot-otot penyangga tubuh dengan benar, di Yin yoga kita diharapkan untuk berpasrah dan menyerah.

Dalam Yin kita diharapkan untuk mendengarkan tubuh. Kembali terhubung dan menerima batas-batas yang ada. Berdamai dengan rasa-rasa tidak nyaman yang ditimbulkan namun tau persis kapan untuk berhenti.

“Hati itu Yin dan organ hati adalah organ yang menyimpan emosi kemarahan. Nah kalau sering emosian, mungkin bisa mencoba berlatih pose ini setiap hari…” jelas Suri menemani kami yang tengah berdamai dengan tubuh masing-masing.

Setelah sesi yin yoga itu berakhir, beberapa fakta tentang organ tinggal berlama-lama di kepala saya.

Salah satunya tentang Hati dan empedu yang berpasangan. Betapa pasangan ini utuh dan menyeluruh. Hati selama ini diidentikkan dengan kebaikan malah sebenarnya menyimpan emosi kemarahan. Di sisi lain, empedu yang kita anggap sebagai sesuatu yang pahit malah menyimpan emosi kebaikan.

Pelajaran pentingnya, tak ada satupun yang datang dalam paket sewarna, semua punya lapisan warna-warninya tersendiri. Persis seperti logo Yin dan Yang. Ada hitam di putih dan juga ada putih di hitam.

Satu fakta menarik lain tentang organ, bahwa ginjalmu adalah organ yang menyimpan ketakutan dari generasi ke generasi. Ketakutan yang kadang tak kamu pahami asalnya, mungkin bersumber dari leluhur dan emosi ini tersimpan pada ginjal. Ginjal yang adalah Yin namun bertugas secara Yang untuk mencuci darah hingga bersih.

Berlatih Yin yoga minggu kemarin membuat semakin sadar bahwa berpasang-pasang itu bukan hanya menyoal sesuatu di luar diri seperti pasangan. Tapi sebagai manusia, kitapun diciptakan dari pasangan jiwa dan raga yang harus dijaga bersama-sama.

Jiwa dan raga, marah dan bahagia, bergerak dan diam, berjalan dan berhenti, bermain dan bekerja, cerah dan hujan, terang dan gelap, makan dan minum, duduk dan berdiri, membuka dan menutup mata, hidup dan mati, melihat ke luar dan juga ke dalam diri. Menyikapi semuanya dengan seimbang.

Belajar lebih sadar akan dua rel diri yang harus beriringan untuk membuat kereta diri ini melangkah ringan dan nyaman.

Semoga kalian dijaga Semesta di manapun berada ya!

Bandung,2020-12-1

ivy

PS: terima kasih Ibu Suri untuk ilmunya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s