[Diary] Melerai Kenang

Sore tadi ketika matahari malu-malu menyapa masuk ke kamar ada secercah ingatan tentangmu yang muncul. Sepersekian detik yang membuat saya berpikir, “eh.. sudah lama juga mama ga nelpon ya.” Untuk dengan segera sadar bahwa kita sekarang tak cuma berbeda kota tapi juga berbeda dunia.

Lalu ada hening yang singkat untuk kemudian hilang bersama semilir angin sore. Kosong, namun tak lagi sepahit beberapa bulan lalu.

Apa yang berubah? mungkin saya yang mulai belajar untuk memaafkan diri. Dipaksa untuk mencerna, menerima hal-hal yang tak bisa dirubah. Belajar meletakkan batu-batu pemberat. Belajar sadar, tak perlu membopong segala hal demi berbangga diri karena mampu. Belajar mengerti, siapa yang sebenarnya meletakkan diri di tengah siksaan.

Tak ada yang butuh dibuktikan. Terkadang cara paling berani adalah mengakui, melerai dan merelakan.

Menyadari tak semua peristiwa butuh dicarikan konklusi. Menyadari bahwa manusia punya keterbatasan.

Manusia bisa dan akan selalu berbuat alpa.

PS: Kadang saya berharap bisa seperti ular, yang secara periodik mampu meluruhkan kulit matinya. Meluruhkan rasa-rasa yang memberatkan hati dan menyesaki kepala. Namun saya sadar, manusia tak pernah belajar jika begitu adanya.

Bandung, 2020-10-30

ivy

*biru tengah melerai rasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s