[Diary] Nasi Goreng Ikan Balado

Hari ini ulang tahunmu yang ke 60, harusnya.

Hari ini dua tahun lalu, kami membelikanmu telepon selular baru.

Hari ini 5 tahun lalu, untuk pertama kalinya kita merayakan ulang tahunmu tanpa ayah di sisi.

Hari ini setahun yang lalu, aku mengantarkanmu ke Bandara Soekarno Hatta. Membelikan Roti Boy kesukaanmu dan melepasmu di gerbang keberangkatan.

Hari ini 10 tahun silam, hadiah apa yang aku berikan padamu? Akh, kala itu aku masih anak perempuan romantis yang menikmati pencarian hadiah untuk orang-orang terkasih.

Baju, sepatu, sendal, benda-benda yang dicari sepenuh hati agar sesuai dengan yang kamu mau. Sebenarnya selain ukuran dan nyaman, kamu ibu yang tak terlalu banyak permintaan. Tak peduli soal brand, tak ribut soal model, “Lia tengok se lah yang cocok untuk mama…” begitu biasa kamu menyimpulkan.

Hari ini yang bisa aku lakukan, menjahit potongan-potongan kenangan ini untuk jadi penghangat hati.

Sepatu baru yang kamu pilih sendiri dan baru sekali digunakan. Sendal mahal yang kamu simpan baik-baik dan hanya pakai sesekali dan masih tergantung di belakang pintu. Hanya itu yang kini tersisa untuk mengingat hari jadimu.

Di antara segala kenangan itu, aku teringat nasi goreng ikan baladomu, mom! Ikan tuna dan nasi sisa, yang kamu sulap jadi nasi goreng sedap dan digandrungi banyak orang. Mami bahkan pernah berkelakar, “Nanti pensiun kita jualan nasi goreng ikan balado aja puk!”

Seperti resep nasi goreng ikan baladomu yang kini hilang, pun masih ada ruang kosong yang coba aku isi kembali di diri. Maka, besok aku putuskan dengan sisa ikan tandeman kesukaanku akan kubuat nasi goreng ikan balado versiku.

Tak seenak punyamu, tentu. Bukan, bukan tak percaya diri. Tapi aku tau segala hal luar biasa tak muncul dalam satu hari. Maka biar kucicil rasa asing ini di tiap nasi goreng ikan balado yang akan kubuat.

Aku percaya, suatu waktu rasanya pas, tak sama tapi cukup.

Picture from : https://www.dreamstime.com/illustration/fried-rice.html

Selamat berpesta di sana, Ma. Maaf tak sempat berguru banyak ilmu dapur padamu. Mungkin anaknya memang bebal dan butuh jatuh bangun sendiri dulu baru paham dan mengerti.

Ma, Pa doakan saja kami dari sana.

Bandung, 2020-09-17

Ivy

*anak bandel yang merindukanmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s