[Diary] Belajar Menanak

 “Lia memasak itu instan gratitude” ucap seorang teman ketika kami sedang mengudap batagor di jalan Burangrang Bandung. “Menyiapkan lalu dimakan dan disyukuri.” Jujur saja ketika itu saya cuma mangut-mangut dengan cerita sekaligus kedalaman pesannya. Si teman yang satu ini memang selalu punya gaya bahasa menarik dalam menceritakan pelajaran hidup yang diterimanya.

Setahun kemudian, diakomodir pandemik, baru akhirnya saya benar-benar paham maksudnya. Memasak, menanak adalah kegiatan sederhana berulang yang kita lakukan setiap hari demi memenuhi kebutuhan sendiri. Menghidupi diri sendiri, self sustain.

Lepas dari arti harafiahnya, ‘memasak’ juga dapat dilihat sebagai kegiatan untuk mempersiapkan sumber tenaga untuk diri. Menjaga keberlangsungan hidup, memastikan bahwa semua anggota tubuh punya cukup tenaga untuk bekerja. Terlihat sederhana, tapi ternyata punya dampak yang begitu luas.

Berdiam di kampung halaman selama dua bulan lebih, saya punya kesempatan yang sama, belajar memasak. Memasak dalam bentuk sesungguhnya sekaligus meracik ‘kebutuhan-kebutuhan’ diri. Saya yang ketika di Bandung seringnya membeli makanan di luar rumah, kini selalu memakan makanan rumahan. Pun saya yang selama ini sering memenuhi ‘kebutuhan’ diri dari luar kini belajar berkaca dan meraciknya sendiri.

Saya belajar membuat makanan untuk perut, kepala dan hati saya. Meraba-raba takaran dan kembali belajar lagi tentang rasa-rasa yang memberi respon buruk pada tubuh atau pikiran saya. Membuat catatan detil tentang alergi-alergi yang terjadi dan mencoba lebih sadar serta mengurangi penggunaannya.

Saya berkata pada Dea sore ini, “De gua lagi sayang-sayangnya ama diri..” Ini alasan dalam beberapa bulan terakhir saya membatasi banyak interaksi. Saya sedang selektif menjaga kondisi ‘perut’. ‘Perut’ saya sedang penuh dengan racikan-racikan pribadi. Saya ingin mencicipi tiap racikan ini tanpa terlalu banyak distraksi. Memberinya ruang untuk mengendap dan lebih peka dan sadar dengan tiap respon yang dihasilkan.

Menikmati tiap proses bersama diri dan membiarkan kejutan-kejutan itu bermunculan. Mengakui lalu menerimanya.

Di manapun kalian berada, semoga banyak penemuan baru juga yang kalian temukan selama masa-masa memelan ini.

Tetap sehat dan waras! Cheers 🥂

 

Cheers,

Dari yang tengah jatuh cinta pada diri

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s