[Diary] Pelajaran Berkebun 1

“Selalu ada waktu untuk semuanya…” begitu mungkin kalimat yang saya percaya klise tapi ternyata masih punya khasiat mumpuni. Seminggu lalu, saya mengadopsi beberapa bayi hijau ibu mami dan memboyongnya ke kamar.

Ketika pertama-tama kali saya memandang-mandang tanaman keladinya di taman, ibu angkat yang saya panggil mami ini sedikit heran sembari bercanda. “Tumben, kamu bilang tanaman bagus… ” ucapnya dengan setengah bergurau. Pasalnya, mami adalah orang yang sering berbicara dengan bayi-bayi hijaunya. ‘tumbuh ya nak.. tumbuh ya…” Perbincangan yang jika saya dengar sering saya jadikan bahan bercandaan.

Canda saya pada teman-teman, “it takes Corona to makes me gardening!”

Kemarin pagi, saya bangun dan mendapati ada daun kuning pada keladi saya. Sebagai ibu baru yang serba tak tau segala hal tentu saja saya bertanya kepada mami. Begini percakannya:

Me: Mam, koq daun keladi Lia ada yang kuning?

Mam: Berapa banyak?

Me: Cuma 1 sih.

Mam: oh. Mungkin cuma uda tua, emang gitu koq. Kalau ga, gimana bisa ada tempat buat daun baru untuk tumbuh?

Mami lalu melengos pergi, meninggalkan saya yang manggut-manggut. Begitu ya hidup, emang tidak untuk selamanya.

“Akan selalu ada pengorbanan-pengorbanan untuk setiap kelahiran-kelahiran baru.”

 

Padang, 2020-05-10

ivy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s