[Diary] Penyesalan

Berapa kali kamu pernah menyesali tindakan yang telah kamu lakukan?

Beberapa hari lalu saya menyesali keputusan impulsif saya di tengah rasa lelah dan marah. Saya kesal mengapa saya bak petasan cabe dan tak duduk diam dulu untuk mencerna benturan demi benturan yang tengah terjadi.

Hal semacam ini sudah lama tak pernah terjadi. Sehingga rentetan kejadian menyebalkan, dengan cepat membuat saya lenggah dan meledak seperti bom. Berkeping-keping.

Setelah duduk sekitar 10 menit, saya sadar. Ada arus penyesalan yang tiba-tiba menderas, namun ego saya tak mau mengakui saya gegabah. Baru setelah hampir satu jam, saya berani menerima pil pahit itu. Hal pertama yang ketika itu saya lalukan adalah mengingatkan diri untuk tak berlarut-larut menyesali yang terjadi. Percuma mengutuk dan memaki, yang telah berlalu tak mungkin diulang.

Hal yang bisa saya lakukan adalah, mencatat baik-baik fasa dan rasa ini. Membuat catatan mental, sehingga kalau-kalau saya kembali mengalaminya, saya tau harus berbuat apa. Saya butuh jedah tunggu untuk memproses. Saya butuh duduk diam dulu untuk berpikir lebih jernih sebelum mengambil keputusan.

Poin penting lain, bukankah setiap hari kita juga membuat keputusan-keputusan kecil yang kadang kita sesali karena dilakukan di lain waktu kita sesali karena tak dilakukan. Di antara dua pilihan ini, saya yakin kita sepakat, penyesalan karena tak mencoba adalah yang terberat. Maka? Perkuat saja otot penerimaan, lakukan pilihanmu dan terima segala konsekwensinya.

Bandung, 2020-2-5

Ivy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s