[Diary] Belajar Berdansa

Awal tahun ini dimulai dengan penuh keyakinan dan tergesa-gesa. Ya, dari pertengahan tahun sebelumnya banyak kesempatan yang berseliweran dan saya kejar dengan membabi buta.

Berlari melebihi kapasitas diri dengan beban yang juga tak mampu kamu bopong, tentu tak akan bertahan lama.

Tak perlu waktu lama, bulan Desember lalu saya segera merasa butuh menyepi dan menyediakan ruang kosong untuk diam. Namun alih-alih bisa sepenuhnya diam, segala beban dan janji yang terlanjur menggantung tetap harus saya bopong. Perumpamaannya seperti pendaki yang duduk berisitrahat dengan ransel yang masih dipanggul.

Perhentian sesaat saya di Makale akhir tahun lalu malah membuat ritme perjalanan saya di awal tahun menggila, 8 kota dalam 1 bulan. Puncak batas kemampuan saya! Bam! ketika pikiran tak mampu memutuskan maka berakhir dengan tubuh yang menuntut jatahnya. Saya terkapar hampir sebulan di kampung halaman.

Bulan-bulan selanjutnya, pemahaman untuk melambat mulai tumbuh, namun tiket kerata cepat sudah di tangan dan ada janji yang harus ditepati. Setelah terseok-seok mencari jeda di antara ritme tersebut, baru di akhir bulan keenam saya mampu menyediakan waktu untuk diri. 11 hari, 10 malam yang tak akan saya lupakan.

Kesimpulan:

Seperti gasing, manusia butuh untuk berputar agar stabil dan tetap berdiri. Pertanyaannya, seberapa cepat putaran yang kamu BUTUHKAN ?

Apa benar kamu butuh berputar dengan kecepatan tinggi untuk tetap berdiri?

Juli dan Agustus ini saya mulai belajar memelan. Mengurangi warna stabilo pada tiap bulan yang terlewati. Apa tak ada lagi tawaran untuk berjalan? Banyak. Lalu apa yang berubah? Saya. Saya yang belajar sadar akan kemampuan dan kesanggupan diri.

Pemahaman dari perjalanan hidup 6 bulan ini, kita tak butuh berputar dengan cepat, kita butuh berputar dengan kecepatan konstan. Pilih saja hal-hal penting yang mampu membuatmu berputar. Percayalah, kita tak akan sanggup mengikuti semua yang ditawarkan dunia, pun kita tak pernah benar-benar butuh.

Seperti momentum untuk menambah kecepatan, perlambatan juga butuh waktu. Mencari kecepatan yang tepat bukanlah proses instan. Mari menyadari kita ada di tahap mana, menambah kecepatan ketika dirasa mulai terlalu lambat dan mengurangi kecepatan jika dirasa mulai membuat pusing.

Selamat berpusing-pusing! Mari terus berdansa dan bersenang-senang dengan tetap mengukur putaran.

 

 

Dago, 2019-08-15

ivy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s