[Diary] Room Mate

“Gua lagi nyari room mate, Li!” ucap salah satu teman yang sudah saya kenal setahun lebih. Tentu saja pertanyaan pertama saya adalah, “kenapa cik?” Saya tau persis dia salah satu orang soliter yang saya kenal. Orang yang tidak terlalu ingin terikat dan tergantung dengan orang lain.

Setelah membeberkan beberapa alasannya, ia menutupnya dengan pernyataan, “waktu sendirinya cukup..” ucapnya sembari terkekeh. Saya yang mendengarnya tentu saja ikut terkekeh bersama. “Eh pikirin dulu aja, kalau emang ga sreg ga apa-apa koq.” ucapnya menenangkan.

Ini ajakan kedua dari orang berbeda yang mengajak saya untuk berbagi rumah. Terhitung tiga, jika ajakan menikah diikut sertakan. *Eh.

Masing-masing orang yang mengajak ini saya kenal sebagai pribadi yang baik. Orang-orang yang ada di lingkaran terdalam saya. Lalu mengapa perasaan pertama yang muncul ketika ajakan itu dilontarkan adalah perasaan takut?

Di tengah semua tanya tersebut saya sadar, saya yang belum ingin mengakhiri waktu sendiri saya. Saya yang notabennya belum siap untuk berbagi ruang pribadi dengan mereka.

Manusia itu sering double standard, iya saya salah satunya. Ingin punya pasangan namun tak mau berbagi ruang komitmen. Dear myself, jangan lagi bertanya mengapa kamu selalu bertemu ruang singgah, karena kamu yang tak pernah mau menjadikannya sudah.

 

Dago, 2019-7-22

Ivy

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s