[Review] The Favourite

 

images.jpg

picture from google

 

 

“Love has limit, it should not..” Ini kalimat awal yang terucap dari Queen Anne di menit-menit awal film ini. Rupa-rupanya quote tersebut sekaligus menjadi premis dari keseluruhan film The Favourite besutan sutradara Yorgos Lanthimos ini. Selama 120 menit film ini berlangsung, Yorgos menawarkan sajian yang luar biasa memukau, aneh namun begitu lezat sehingga tak bisa tertolak. Bak fushion food, Yorgos mencampurkan berbagai hal tak biasa dalam intepretasinya terhadap Queen Anne dan segala kehidupannya.

Keasingan ini dirangkum dengan sangat indah tentunya disertai dengan custom design yang luar biasa dari Sandy Powell. Detil-detil kecil yang membuat film ini bercerita begitu utuh. Detil-detil yang sekaligus punya sarkasme dan maksud dan olok-olokannya tersendiri. Bravo!

Film yang ditulis oleh Debora Davis & Tony McNamara ini menyuarakan emansipasi dengan cara yang begitu elegan, anggun dan mulus. Semua laki-laki diberi wig tinggi besar seperti yang biasa digunakan oleh putri-putri di abad belasan. Belum lagi olok-olokan yang disuarakan di tempat dan saat yang tepat oleh Robert Harley yang diperankan oleh Nicholas Hoult, “A man must look pretty..”

Di sisi lain, penonton mampu menyadari hanya ada 3 karakter yang membuat film ini berjalan maju dan ketiganya adalah perempuan. Tiga pemeran utama yang punya akting luar biasa memukau dan mencengangkan, Queen Anne yang diperankan oleh Olivia Colman, Sarah Churchill yang diperankan oleh Rachel Weisz dan Abigail Hill yang diperankan oleh Emma Stone.

Terlepas dari kenyataannya, film The Favorite tak main-main dalam menyampaikan pesan-pesannya. Ada beberapa pesan yang bisa ditarik dari film ini, tentang hal-hal tak terlihat di balik dinding mewah tersebut. Tentang emosi, tentang kesepian, tentang kehilangan dan tentang menjadi seorang kekasih.

The Favorite tak hanya memberi persepsi tentang kehidupan seorang ratu, sekaligus mengingatkan bahwa ternyata ada hal-hal penting yang tak berhubungan dengan uang dan kekuasaan. Secara gamblang menjelaskan mengapa “Greedy termasuk dalam salah satu dosa besar..”

Perang yang terjadi di luar juga terjadi di sini, di istana indah ini, pun di relung terdalam masing-masing orang.

“Apa kita sebegitu maruk untuk berperang di luar sana, sementara menimbulkan perang lain di sini?”

 

 

 

Dago 485, 2019-6-7

ivy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s