[Review] ROMA

 

661567_p15849821_p_v8_aa

picture from google

 

Apa kamu bisa membandingkan rasa Wagyu dengan donut?

Loh? Maksudnya?

Begini analogi saya untuk perdebatan yang sempat hangat menyoal Roma dan Green book. Buat saya membandingkan kedua film ini terasa tak adil. Roma tak terbantah film yang mampu membuatmu menangis dalam diam. Dengan warna hitam putih, memaksamu untuk melihat mimik dengan lebih detil, hal-hal kecil yang jika dalam warna terasa tetap indah. Emosi-emosi yang terpatri begitu kuat, latar belakang cerita yang dibangun perlahan meski terasa lambat.

Bak benteng kokoh, Roma membangun dengan rapi balok balok ceritanya. Isu-isu dan protes yang ingin disampaikan disuarakan dengan begitu elegan. Bukan dengan teriakan namun dengan cerita yang bahkan minum dengan dialog. Tertata satu persatu, dengan timing waktu yang tepat, tak kurang tak lebih.

Keseharian tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita yang kemudian menggerakkan cerita ini. Sebagian seperti repetisi, sebagian lainnya memunculkan fakta baru. Seperti pemain kartu piawai yang mengeluarkan kartu dengan penuh perhitungan. Karakter-karakter utama kemudian berkembang dan seperti penari profesional menari dengan gemulai. Perlahan tapi pasti membuatmu menelusup ke kehidupan monoton dalam gambar monochrome. Sungguh pengalaman personal yang tak terbantah indahnya, mewah.

Keindahan tingkat tinggi ini juga lah yang justru membuat Roma tak dapat dinikmati semua orang. Alur lambat di awal yang cukup membuat bosan, warna hitam putih dan tak banyaknya percakapan di antara para tokoh. Itu mengapa saya menganalogikan Roma layaknya Wagyu yang tak dapat dijangkau oleh semua orang. Terlalu indah, terlalu mahal.

Ini mengapa tak adil membandingkannya dengan green book yang saya analogikan sebagai donut. Siapa yang tidak pernah mencicipi donut? Terlepas itu donut mahal atau murah, bukankah kita punya bayangan masing-masing ketika menyebut donut?

“Siapa yang bisa tidak suka dengan greenbook?” begitu kilah salah satu teman pecinta film yang juga menjagokan Roma sebagai film terbaiknya.

Lepas dari film mana yang menang, kedua film ini bercerita tentang hal sederhana dengan cara yang sangat berbeda. Namun sungguh dua-dua nya pantas mendapat waktumu.

 

Bandung, 2019-3-15

ivy

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s