[Review] Anomalisa: Cerita Animasi Untuk Berkaca

 

220px-Anomalisa_poster

Picture from google

 

Berbeda dengan banyak karakter di film animasi yang biasanya terlihat begitu hidup dan menarik, karakter pada film Anomalisa ini gemuk dan pendek serta memiliki bentuk muka yang aneh, seperti topeng yang terbelah dua persis di bawah mata. Sungguh jauh dari kesan menarik dan lucu serta jelas-jelas ingin menjelaskan bahwa mereka seperti boneka yang terlihat dari gerak gerik yang kaku.

Sang sutradara Charlie Kauman yang dibantu oleh animator Duke Johnson membungkus film ini dengan detil yang penuh perhitungan. Jika kita cukup peka, Michael sang tokoh utama yang merupakan penulis dan motivator terkenal hanya mendegarkan satu jenis suara. Tak peduli siapapun yang berbicara padanya baik pria ataupun wanita hanya suara Tom Noonas yang terdengar olehnya kecuali satu anomali Lisa.

Lisa adalah perempuan pemalu yang memiliki bekas luka di wajahnya. Luka yang membuatnya menjadi rendah diri dan selalu berusaha ditutupi dengan rambutnya. Suara Lisa diperankan oleh Jennifer Jason Leigh. Hidup Michael yang tadinya hanya dipenuhi oleh suara-suara sumbang yang sama berubah ketika akhirnya dia bertemu Lisa malam itu. Anomali yang kemudian dijadikannya panggilan untuk Lisa, Anomalisa dan menjadi judul dari film ini.

Seting dari film animasi ini sendiri tidak terlalu banyak, sebagian besar dari film bertempat di sebuah hotel di Cincinati. Meski seting tempatnya tak berpindah, namun emosi-emosi yang dihadirkan ketika menonton film ini sungguh luar biasa. Banyak hal-hal kontradiktif yang ditampilkan Kauman di film ini secara tidak sadar mengelitik perasaan terdalam. Seorang motivator yang menyemangati banyak orang namun memiliki kehidupan pribadi yang sangat membosankan. Wajah tokoh utama yang memaksakan senyum hingga setengah wajahnya terlepas.

Kauman bermain-main dengan perasaan dan keinginan setiap manusia yang ingin dianggap spesial. Memberi tamparan keras untuk setiap kegiatan rutin yang kita lakukan sehingga membuat kita merasa seperti robot atau boneka. Senyum yang terpaksa, ucapan basa-basi dan segala topeng-topeng lainnya.

Plot dari cerita animasi yang begitu kontemplatif berdurasi 90 menit ini berjalan maju dan mundur. Di awal diperlihatkan tokoh utama Michael terlihat seperti orang yang tak memiliki semangat hidup dan membaca ulang sebuah surat lusuh, penuh sendu. Beberapa menit awal di film ini memang sedikit membosankan namun jika kamu mampu bertahan, banyak muatan-muatan permenungan diri tentang menjadi manusia yang dapat dipungut di sini.

Michael Stone yang merupakan tokoh utama dari film ini tidak memiliki banyak ekspresi. Seringnya senyum yang ditawarkanpun terlihat tidak tulus  bahkan ketika di atas ranjang mukanya tak memperlihatkan banyak ekspresi, dingin. Ya, film animasi ini menyertakan adegan ranjang yang begitu kikuk dan kaku namun terasa begitu nyata. Suara tokoh utama diisi oleh David Thewlis.

Film animasi ini dapat dikategorikan sebagai fenomenal. Rasakan roller coaster rasa ketika menonton film ini. Abaikan saja betapa animasinya terlihat begitu kaku, karena hampir setiap detil dari film ini mengandung makna kontemplatif dan penuh arti. Ending cerita ini dibuat mengantung, tebakan saya untuk memperkuat tujuan awalnya, pencarian diri masing-masing dan berkaca. Apa kita salah satu kembaran Michael Stone ?

*Tulisan ini sebelumnya sudah pernah dipublikasi di kabarkampus.com

Advertisements

4 thoughts on “[Review] Anomalisa: Cerita Animasi Untuk Berkaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s