[diary] Merajah Tubuh

“Aku pengen bikin tatto pheonix, Nat.” begitu ucap Mbak Novi malam itu di satu pintu. Kala itu kami sedang ada di perayaan ulang tahun klub menulis kesayangan. Klub menulis yang mempertemukanku dengan banyak kesempatan dan kesenangan.

Malam itu tanpa tedeng aling-aling kami berbincang tentang tatto di semeliwirnya Bandung bulan September. Lalu aku membuat pengakuan lisan pertama, “aku juga pengen natto mbak.”

Di tengah kepulan asap rokoknya masih bisa aku baca raut antusiasnya. “Tatto apa?” Aku tersenyum dan memperlihatkan bentuk tatto kecil yang aku inginkan, lalu sembari menunjuk pergelangan tangan kiri berkata, “kecil aja di sini.”

Mbak Novi tersenyum, “Bagus nat. Mau natto sama siapa?” tanyanya kemudian.   Pertanyaan yang waktu itu belum aku temukan jawabnya.
“Pengennya bertemu dan bisa berbicara langsung dengan tatto artisnya. Haha..” Lalu saya akhiri dengan doa, “Biar semesta aja yang menjawab.” ucapku mengakhir perbincangan itu.

Berselang seminggu kemudian, semesta mengamini permintaanku. Martha teman baikku, tanpa rencana mengunjungi Bandung membawa serta 2 temannya yang rupanya tatto artis.

“Mau natto gak, li? Nih ama mereka aja..” ucapnya ketika memperkenalkanku dengan Jurik san Ilo.
“Kami bakal di Bali, Oktober – November.” Restu lain dari semesta yang membuat semua jalan itu terbuka. Aku juga berencana mengunjungi perhelatan sastra akbar di Ubud pada akhir Oktober. Ada waktu dan tempat yang sesuai di sana, ada jawaban untuk pertanyaan. Maka semua utuh.

Tanggal 5 November lalu, akhirnya rajah pertama dibubuhkan ke tubuh. Terima kasih untuk semua yang sudah menjadi pintu untuk mempertemukan kesempatan yang satu ini.

“Apa arti tatto nya?” Tatto sederhana berupa panah menembus lambang tak hingga. Lambang yang sekaligus  memperlihatkan zodiak sagitarius dan juga bisa dilihat sebagai bentuk salib.

“Girl, keep on going, keep on walking, cross always there, with you.”

NOTE: Lalu ketika tatto ini dibuat dan jadi dengan segala perintilan yang aku minta, tetap saja ada hal-hal tak terduga. Sedikit miring sedikit kepanjangan, agak terlalu begini dan terlalu begitu. Tapi lalu aku sadar. Hey bukannya ketaksempurnaan yang membuat hidup menjadi hidup. Maka, satu lagi makna untuk tatto kecil ini.

“Nothing is perfect including you. So let it go and let God do the rest”


Banyuatis, 2018-11-10

Ivy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s