[Diary] Bermimpi

Menyoal mimpi, frasa ini saya ingat pernah muncul lagi ke permukaan di awal tahun ini. Setelah 3 tahun silam aku menguburnya dalam dan memberinya nisan di pojok hatiku. Berkata pada diri, aku lelah bermimpi dan berharap jika kelak akan kecewa, mari kita hadapi saja hidup dengan lebih legowo. Menerima apapun yang muncul di hadapan.

Pemahaman ini keluar di tengah sesi tarot bersama beberapa teman baik. “Nat, elo masih muda. Masa uda ga mau bermimpi lagi?” ucap sang teman dengan lirih ketika saya bilang akhir-akhir ini saya jarang menyematkan mimpi pada masa depan. Jarang mengantungkan harapan yang terlalu tinggi.

Kala itu saya terdiam dan mematung. Ketika pulang pertanyaan itu masih tergiang-giang, “Emang hidup tanpa mimpi gimana rasanya? Apa ga hambar?” begitu mungkin tatapannya jika diartikan.

Segala kesibukan lalu menelan permenungan yang belum menemukan akhir tersebut, hingga minggu kemarin dalam sesi pengajian malam jumat bersama kelompok penulis kesayangan, frasa ini kembali tersebut. “Tulisan kali ini tentang cita-cita.” Namun, kamis malam itu saya tidak menulis tentang cita-cita dan mimpi saya.

Tapi ada gelitik rasa yang tak mau pergi menyoal ini. Ternyata, saya rindu juga berpelukan lagi dengannya. Mungkin benar potongan kata-kata seorang teman yang bergema begitu kuat  “Berkali-kali mimpi saya tinggalkan, tapi mimpi tak pernah benar-benar meninggalkan saya.”

img_3511

Ninh Binh, March 2018

Hal yang sama juga terjadi pada saya yang beberapa tahun ini, takut untuk bermimpi, bertameng kata realistis padahal hanya pengecut yang takut untuk kecewa.

Maka, ini mimpi saya yang sebenarnya dari dulu tak pernah mati. Saya ingin punya sebuah rumah kayu kecil di atas bukit. Alangkah baiknya jika ada sungai kecil di samping atau siapa tau ada danau. Rumah kayu ini berloteng gantung dan tentu saja punya beranda depan. Pada beranda depan akan ada kursi gantung untuk berayun-ayun menikmati sore atau malam dengan segelas teh hangat. Pada pojok lainnya akan ada meja dan kursi dengan ukuran ketinggian yang pas hanya untuk saya. Ya saya sebenarnya sangat picky dengan ukuran meja dan kursi.

Di dalam akan ada ruang tamu kecil dengan perapian sederhana di sudutnya. Pengganti televisi akan saya letakkan radio atau pemutar piringan hitam? Pada dinding akan ada jejeran rak buku yang tentu saja penuh. Persis di sebelah jendela lebar bercat putih yang saya hiasi dengan kaktus yang tak butuh banyak perawatan, sebuah sofa nyaman untuk membaca lengkap dengan kursi kecil untuk kaki. Gorden jendela akan saya pilih sifon putih tipis sehingga cahaya matahari bisa masuk ke dalam. Ada baiknya juga sebuah meja kecil dengan ukuran yang tepat, kalau-kalau ingin menulis. Hei ide bisa muncul di mana saja kan?

Saya percaya, saya orang yang tak terlalu suka menghabiskan waktu di dapur. Maka dapur itu hanya untuk saat-saat tertentu. Untuk memasak kue bersama sahabat? Tapi, siapa tau waktu tua membuat saya punya banyak waktu untuk diisi di dapur. Jadi saya tetap ingin dapur ini punya jendela besar di satu sisinya.

Sebuah kamar kecil untuk tamu di ujung belakang, sehingga tamu bisa punya akses keluar masuk sendiri tanpa merasa saling menganggu dengan saya. Di atas dengan loteng gantung akan jadi kamar dan tempat kerja saya. Kamar dengan beranda belakang menghadap bukit, tempat duduk dan goler-goler malam memandang bintang. Meja dan kursi lain di pojok ruangan tentu tetap dengan jendela besar yang bergorden putih yang bisa dibuka. Ya, saya sebegitu sukanya dengan jendela.

Tempat tidur akan terletak agak di pojok belakang agar sinar matahari yang masuk ke kamar tidak langsung mengenai saya ketika tidur. Meski suka jendela, saya juga suka tidur dalam gelap. Di dalam kamar akan ada rak-rak buku yang berisi buku favorit. 

Untuk kamar tidur ini, tentu tak semua orang diberi akses melihatnya. Hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk ke kamar saya.

Sebagai introvert, kamar bagi saya adalah lambang dari ruang nyamanmu. Tempat di mana saya boleh telanjang dan melepaskan semua tameng, tempat yang tiap sudutnya saya tau persis. Saya percaya membiarkan orang memasuki kamar pribadimu seperti memberi izin seseorang berkunjung ke ranah paling pribadimu. Tentu butuh dipilah dengan baik bukan?

Tentu saja mimpi ini masih terlalu mengawang, tapi detil-detil lain dari mimpi ini akan saya tambahkan berkala. Saya ingat pernah membaca pernyataan, semakin sering kamu menuliskan mimpimu dengan detil, semakin besar energi semesta akan membantumu mengamininya.

Oh ya, saya ingin seekor anjing labrador bewarna coklat mengkilat bernama Brown sebagai penjaga istana saya. 

Kalau kamu bagaimana bayanganmu tentang rumah impian?

 

PS: Maka jika suatu waktu kamu saya izinkan melonggok ke kamar saya percayalah kamu special. Pun jika saya rela untuk menjambangimu di tempat ternyamanmu.

 

 

Dago, Bandung 2018-10-22

ivy

 

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “[Diary] Bermimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s