[Review] 1984

War is Slavery

or

Slavery is War ?

img_9350

Momo & George Orwell, 2018

Buku setebal 300 halaman karangan George Orwell ini jadi salah satu buku terberat yang saya baca di tahun ini. Butuh lebih dari sekedar niat untuk menyelesaikan buku ini. Mengapa? Isi buku ini membuatmu tak bisa tidak untuk bertanya hal apa yang menginspirasi penulis ketika akhirnya menuliskan buku ini?

Hal paling luar biasa sekaligus menakutkan adalah, buku yang ditulis berabad-abad silam ini terasa semakin mendekati kenyataan ketika dibaca di tahun-tahun ini. Membaca beberapa halaman awal cukup membuatmu bergidik dengan hal yang diceritakan.

Tentang segala kecanggihan teknologi yang selain membuat semuanya teratur sekaligus membuat semakin berjaraknya manusia yang satu dengan yang lain. Betapa semakin mengerutnya ruang-ruang privasi karena segala hal yang kamu lakukan diawasi oleh sebuah telescreen besar yang terus berdengung.

Dunia imaji di dalam kepala George Orwell ini diceritakan hanya dengan beberapa tokoh kunci. Winston Smith sang tokoh utama semacam kamera yang membidik perlahan-lahan dunia imaji ini. Seperti lapisan bawang, lapis demi lapis dari kedalaman cerita berjalan pelan, namun begitu detil dengan percakapan yang filosifis.

Jujur, buku ini begitu melelahkan untuk dibaca. Bukan karena penulisannya tapi karena muatan kandungan yang ada di dalamnya. Kenyataan-kenyataan pahit yang sering kita kesampingkan, dihadapkan persis di depan muka kita. Saya butuh beberapa jedah sampai akhirnya bisa menyelesaikan buku ini.

Secara keseluruhan 1984 adalah buku dengan ending yang bitter. Seperti rimbang yang masih menyisakan rasa pahit di mulutmu, bahkan setelah kamu selesai mengunyah dan menelannya. Rasa pahit yang jelas tak akan kamu lupa, tentang betapa berharganya sebuah kebebasan berpikir dan berpendapat.

Terpenting, tentang apa yang membuat manusia menjadi manusia. Kalau menurutmu apa? Apa pula yang akhirnya membuat manusia menjadi hanya cangkang kosong tanpa jiwa?

Seandainya kamu tertarik dengan pertanyaan di atas, Orwell punya pandangan dan gambaran brilliant yang tak akan kamu lupa sekali kamu masuk ke dalamnya. Maka, pantaslah buku ini untuk kamu baca. Sungguh.

 

Kupa, Bandung 2018-10-20

ivy

 

 

Advertisements

2 thoughts on “[Review] 1984

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s