[Review] Split

split_poster-2

Gambar dari google

“Apa yang membuat seseorang memiliki berbagai kepribadian?” pertanyaan ini yang terlintas setelah selesai menonton film besutan sutradara M. Night Shyamalan. Film berdurasi 113 menit ini dibuka dengan sebuah pesta ulang tahun sederhana di sebuah restoran.

Sejak dimulai film ini mengajak para penonton untuk berargumen dan menebak-nebak sendiri jalan cerita. Petunjuk-petunjuk disebar dengan cukup namun tidak berlebihan. Butuh perhatian ekstra untuk paham jalan ceritanya di awal. Namun begitu tertawan dengan cerita ini, semua akan tak sabar menunggu sosok apa yang akan muncul di pintu depan.

Jika banyak film yang memukau penonton dengan background tempat yang luar biasa, maka film ini berbeda. Seting tempat utama film ini hanya terjadi di dua tempat utama. Tak banyak pemandangan indah untuk menghibur mata, tapi tokoh-tokoh di dalam film ini berkembang, bermetamorfosis secara perlahan tapi pasti.

Potongan-potongan masa lalu kemudian mengenapi puzzle dari cerita utama. Ketegangan dari film ini dirasakan justru dari tiap kejutan yang tak tertebak. Timing dari ketegangan ini diatur sedemikian rupa, sehingga ketika segala tebakan dan ketengangan itu bermuara pada satu kesimpulan, ada ketengan lebih besar yang menantimu dengan lebih panik. “Hah serius bisa gitu?”

Pertanyaan yang kelak akan kamu telan bulat-bulat karena James Mc Covey yang berperan sebagai Kevin memainkan perannya dengan begitu luar biasa. Film ini sekaligus membuatmu berempati pada penderita gangguan jiwa seperti Kevin yang memiliki begitu banyak kepribadian ganda.

Dengan ritme yang pelan, background dari masa lalu yang dipaparkan membuatmu lebih mengerti dan paham tentang apa yang terjadi pada seseorang. Betapa luar biasa mekanisme pertahanan manusia untuk mempertahankan diri ketika didera oleh penderitaan yang tak mampu ditanggungnya. Menciptakan kepribadian baru adalah salah satu mekanisme pertahan diri.

Film ini sekaligus secara gamblang membisiki, bahwa segala hal kasar yang kamu lakukan pada anak kecil meninggalkan bekas yang tak jarang merubah hidupnya selamanya.

Jika di tiap pembunuhan, penonton dibuat berempati dan bersedih untuk korbannya, di film ini penonton diberikan kacamata baru dalam memandang para pelaku kejahatan. Tak banyak dialog dalam film ini, penonton benar-benar diajak untuk masuk lebih dalam dan merasakan sepatu dari orang yang memiliki kepribadian ganda.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s