[Review] The Divine Other

v1.bTsxMjUxMDE4MztqOzE3Nzg0OzEyMDA7MTAwMDsxNDgx

picture from google


“I have a tiger between my legs, Hans!” ucap Nora sang tokoh utama kepada suaminya.  Dialog sederhana yang tanpa berpanjang-panjang menampar dogma-dogma tentang perempuan tepat dan telak.

Film yang disutradari oleh Petra Biondina Volpe ini dibuka dengan cuplikan-cuplikan gambar perjuangan perempuan yang diakhir dengan narasi, “in our village, we missed out everything going out in outside world.”

Sebuah keluarga yang terdiri dari Ibu, ayah dan dua anak terlihat berjalan kaki memulai aktivitas pagi mereka. Sang pria mencium istrinya dan berpamitan untuk bekerja, anak-anak berjalan menuju sekolah dan sang istri mengayuh sepedanya menuju ke sebuah peternakan.

Film ini dimulai dengan alur lambat, memperkenalkan tokoh-tokoh dalam film dan kegiatan sehari-hari yang terjadi di desa mereka.  Lalu diselipkan konflik-konflik keluarga yang begitu lumrah. Keponakan yang beranjak dewasa dan mulai menjadi pembangkang. Ayah mertua yang tak pernah berhenti untuk komplain namun tak mampu melakukan apa-apa. Sederhana sekaligus begitu nyata.

Konflik terbesar dimulai ketika Nora, sang tokoh utama yang diperankan oleh Marie Leuenberger menemani Hanna sang keponakan ke Zurich. Dengan alasan untuk bersua dengan pacar untuk terakhir kali, namun Hanna malah lari dengan sang pacar. Di waktu ini pula Nora dikenalkan dengan gerakan feminisme.

Mulai dari sini, alur film menjadi cepat. Masalah-masalah menyangkut hak perempuan satu persatu muncul ke permukaan. Keponakan perempuan yangtak diperjuangkan oleh ayahnya, Nora yang tak diperbolehkan bekerja, seorang nenek yang tak bisa memperjuangkan propertinya.

Dari konflik-konflik yang terjadi di sekelilingnya ini, semangat Nora muncul untuk berbicara bagi kaumnya. Mata Nora terbuka tentang hal-hal yang sedang dilakukan perempuan-perempuan lain di luar sana untuk memperjuangkan haknya.

Secara keseluruhan cerita ini sangat personal dan menyentuh. Tentang perjuangan seorang ibu rumah tangga untuk bisa bekerja, untuk bisa membantu orang-orang terdekatnya untuk menyuarakan apa yang sebenarnya mereka mau. Pergerakan kecil yang meski ditertawai seisi kampung namun berhasil membuat orang menilik ulang tentang makna dan harkat seorang perempuan.

Rasanya Petra Biondina Volpe yang berperan sebagai sutradara dan penulis tentu tak sembarangan memilih nama Nora yang adalah nama dari Perempuan pejuang kebebasan di Swizertland di tahun 1970.

Film sederhana yang hangat dan sarat makna kehidupan. Film yang wajib ditonton oleh kaum hawa.

Pesan penting untuk semua perempuan di luar sana

“We need to know our Vagina Better. Love your vagina and the orgasm will come.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s