[review] To kill a Mockingbird 

Waktu memang elemen tak terbantah dari banyak hal. Karya-karya seni yang mampu bertahan melawan waktu dapat dipastikan punya nilainya tersendiri.

To Kill a Mockingbird karya Harper Lee telah 50 tahun melalang buana di antara banyak mata. Dalam 309 halaman ini, harpe Lee telah berhasil mendogengkan cerita sederhana yang menyentuh hati. Tentang keluarga kecil, seorang ayah pengacara dan 2 anaknya yang diajarkan tentang hidup sedari dini dengan cara yang menarik.

Beberapa petuah-petuah hidup dipaparkan dalam dialog-dialog dan keseharian kehidupan mereka. Tentang keberanian, tentang tanggung jawab terpenting manusia yaitu pada dirinya sendiri, tentang dunia, tentang ketidakadilan, tentang mencoba meski tau akan kalah.

Seperti mendogeng buku ini memaparkan fakta kehidupan satu per satu lewat sudut pandang salah satu anak. Sudut pandang yang polos dan tak tau apa-apa. Pertanyaan-pertanyaan lugas yang kadang malu ditanyakan oleh orang dewasa. Meski buku ini bercerita tentang rasis, tentang negro yang diperlakukan semena-mena tak membuat buku ini terasa berat.

Karya klasik ini semacam paket lengkap Harpe Lee untuk “anak-anak”. Semacam bekal yang disiapkan sedemikian rupa, padat namun tak berat.

“They’re certainly entitled to think that, and they’re entitled to full respect for their opinions, but before i can live with other folks I’ve got to live with myself. The one thing that doesn’t abide by majority rule is a person conscience.”

Thamres, 2018-6-20

Ivy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s