[Thought] Melanjutkan Darma & Memutus Karma

“Menjadi ibu itu melanjutkan Darma” ucap perempuan yang menjadi program manager Eco learning camp dengan berapi-api di cuaca Bandung yang sendu siang itu. “Bukankah tidak pernah ada sekolah untuk menjadi orang tua?” tambahnya.

IMG_5331

Suatu pagi yang cerah di Bandung, Sept 2017

Sebagai perempuan berkepala tiga yang belum menikah, tentu menyoal anak saya hanya bisa mangut-mangut. Pikir saya benar juga, tidak pernah ada sekolah ataupun kursus yang mempersiapkan para calon orang tua. Padahal jelas-jelas pekerjaan menjadi orang tua itu bukan hal mudah. Kecemasan yang selama ini hanya ada di kepala seperti teryakinkan, bahwa menjadi orang tua memang bukan perkara punya pasangan yang komitmen, menikah lalu brojol. Tidak. Menyoal jiwa baru itu adalah mega tanggung jawab dengan segala ketidak pastiannya, rasanya tak salah jika disebut jalan darma.

Manusia yang lahir ke dunia tak pernah mampu bertumbuh besar tanpa bantuan makhluk hidup lain. Ingat cerita Tarzan? Bayi manusia yang dibesarkan oleh gorila. Ya, dalam hal ini manusia jauh lebih lemah jika dibandingkan dengan makhluk lainnya yang tak jarang ditinggal seorang diri semenjak membuka mata.

Sang orang tua yang tanpa bekal pengalaman ini akan meraba-raba untuk membesarkan sang anak. Tak peduli itu anak kesekian, karena tiap anak punya keunikan dan kemilaunya masing-masing. Kemilau yang membuat orang tua untuk terus belajar dan belajar untuk mengasahnya dengan arah yang sesuai, dengan cara yang tepat.

 “Lalu apa mungkin sang orang tua membuat kesalahan?” tanya Ibu Shierly Megawati melanjutkan. Pertanyaan yang dengan serta merta saya jawab dengan anggukan kepala. “Tentu saja. Orang tua juga manusia.”

Dalam proses mendewasakan ini, tentu saja para orang tua tak luput dari segala kesalahan. Segala pelajaran yang diperoleh dari percobaan dan pembelajaran panjang yang terus menerus. Lantas untuk hal ini jugalah, sebagai orang tua sebaiknya tak lupa untuk terus menjelaskan maksud dan tujuan perbuatan kita serta jangan segan untuk meminta maaf.

“Take a bow..” lanjut ibu dua anak itu kemudian. “Ucapkan bahwa kita salah dan jangan menjadikan hal tersebut sebagai contoh untuk kedepan. Berikan anak-anak pelajaran tentang cara untuk mengakui dan meminta maaf atas sebuah kesalahan.” Inilah hal penting yang wajib dijalankan untuk memutus karma buruk dan melanjutkan darma.

Perbuatan-perbuatan dan kesalahan yang kita lakukan dengan cara salah dengan mengatas namakan cinta harus diakui, harus dicarikan maaf dan ampuannya. Barulah setalah hal tersebut terjadi, jalanan sang anak ke depan akan jauh lebih cerah dan jalanan kita menuju masa tua akan jauh lebih ringan.

Bagi anak-anak yang pernah terluka, mari sudahi luka tersebut. Putuskan karma tersebut, lepaskan kemarahan dan terima kesalahan yang terjadi sebagai sebuah proses yang dijalani tanpa intensi melukai.

Menyoal darma, saya pun percaya tak semua orang punya kemampuan untuk hidup di jalan darma. Persis seperti menjadi orang tua yang juga tak ditakdirkan untuk semua orang. Karena tak ada jalan kembali bagi jiwa-jiwa murni yang tercemari oleh buah-buah dari pohon di pekarangan rumahnya sendiri.

Ibu Shierly Megawati adalah pengagas dan program Manager dari Eco Learning Camp. “Tempat untuk berlatih dan babak belur..” begitu ucapnya di awal perjumpaan kami. Terima kasih untuk obrolan-obrolan bernas yang selalu mencerahkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s