[Review] A Monster Calls

Apa hal paling kamu takuti dalam hidup? Pernahkah ketakutan ini menelusup menjadi mimpi buruk? Atau pernahkah mimpi burukmu menjadi nyata? Nah film yang ditulis oleh Patrick Ness ini adalah gambaran dari mimpi yang dialami seorang bocah berusia 13 tahun.

amonstercalls_1sht_eng_email_r1-page-001.jpg

picture from google

Film berjudul “A Monster Calls” berkisah tentang anak bernama Conor O’Malley yang diperankan oleh Lewis MacDougall. Conor yang berusia 13 tahun, tinggal dengan ibu yang mengidap kanker stadium akhir.

Suatu malam, monster berbentuk pohon raksasa yang ada di dalam mimpi Conor menjadi begitu nyata dan mendatanginya setiap malam. Monster ini kemudian memaksa Conor untuk mendengarkan 3 ceritanya di waktu yang ditentukan.

Cerita bergulir di antara kenyataan yang harus dilalui Conor tentang bullying yang diterimanya di sekolah, nenek yang tak disukainya dan ayah yang tak menginginkannya serta ibu yang begitu dicintainya. Di sela-sela ini, sang monster selalu datang dengan cerita yang tepat di waktu yang tepat.

Analogi dan bahasa simbol yang digunakan dalam film ini membuatnya semakin bernas. Juan Antonio Bayona mampu menyampaikan transfer emosi kepada para penontonnya. Hal ini didukung dengan potongan-potongan dialog yang menggugah serta dengan cimetografi yang juga begitu indah.

Film berdurasi 108 menit ini lebih dari sekedar film keluarga biasa. Film ini menyelipkan banyak nilai penting di dalam masing-masing cerita.

“Your belief is valuable, so you must be careful where you put it and in whom!”, Kepercayaan adalah hal penting, kamu harus berhati-hati di mana kamu meletakkannya dan kepada siapa. Salah satu pesan dari si monster untuk Conor.

Ada beberapa plot yang terasa berlubang di film ini, namun secara keseluruhan film ini masih terjahit utuh dan sangat menyentuh. Film ini akan mampu membuatmu haru. Di akhir film ini berkisah tentang cara seorang anak untuk belajar merelakan. Menerima mimpi buruk dan ketakutannya serta menghadapinya.

Ya. Bukankah soalan paling sulit dalam hidup itu merelakan? []

*tulisan ini sebelumnya publish di kabarkampus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s