[review] Dunkirk, Film Perang yang Intim

images

Sebagai sebuah film perang, Dunkirk membuatmu tersentuh dengan cara yang begitu unik. Film yang ditulis dan disutradarai oleh Christopher Nolan ini tak punya banyak dialog dan terbilang sunyi dari kata-kata.

Sekitar beberapa menit awal, film ini dimulai dalam hening, tanpa percakapan apapun. Suara latar, seperti nafas yang terengah-engah, kaki yang berlarian di pasir, hempasan ombak hingga bunyi pesawat musuh.

Hal paling luar biasa, sosok musuh yang membuat banyak prajurit yang bahkan terlihat seperti semut tersudut hingga ke pesisir pantai tak terlihat secara visual. Musuh besar hanya diwakilkan oleh rentetan tembakan atau pesawat yang menjatuhkan bom.

Dalam film berdurasi 105 menit ini, Nolan membagi cerita ini dalam 3 sub cerita berdasarkan tempat : tanggul, lautan dan udara. Ketiga tempat ini berjalan masing-masing dengan plot yang tentunya tidak linear satu dengan yang lain.

Tidak linear namun membangun semua ketakutan dan ketengan yang sepertinya memang ingin coba ditransfer dengan begitu detil.

Pada masing-masing sub cerita segala kepanikan dan ketakutan perang itu digambarkan dengan begitu personal dari sudut pandang satu atau dua orang. Tajam dan tanpa banyak kata-kata. Mencekam sekaligus mendebarkan.

Perang digambarkan dengan cara berbeda, dari pintu belakang. Tentang prajurit sekutu yang terlunta-lunta di pesisir pantai. Putus asa lagi, lagi dan lagi. Berdiri hanya untuk dipukul lalu jatuh kembali.

Keputusan-keputusan spontan yang diambil atas dasar kemanusiaan seperti oasis di tengah ketegangan film ini. Nama dari tokoh utama ini menjadi tidak seberapa penting, namun setiap tindak tanduk mereka mewakili keseluruhan dari cerita. Tentang trauma yang dihadapi oleh masing-masing pribadi, tentang keresahan, tentang ketakutan, tentang kecamuk batin dan tentang rumah.

Sudut pengambilan gambar Hoyte van Hoytema begitu dekat, sehingga dapat membuat para penonton terbawa serta masuk ke dalam cerita tersebut. Menyata dengan semua musik latar yang membuatnya terasa begitu hidup. Perjuangan seorang prajurit untuk kembali ke rumah, perjuangan orang sipil untuk ikut serta membantu sebisanya, perjuangan pilot pesawat terbang untuk menyelamatkan semampunya.

“Kalian pasti kecewa dengan kami…” ucap salah satu prajurit yang setelah dengan segala perjuangannya mampu selamat.

Ucapan itu dilontarkan beberapa saat setelah dia berdiri di kapal Mark Rylance yang berperan sebagai salah satu warga sipil yang ikut terlibat dalam penyelamatan tersebut. Kata-kata yang dengan serta merta membuatmu meremang, semakin terhisap dengan emosi dan menjadi lebih paham tentang perang.

Cerita inipun diakhiri dengan menarik. Setiap orang punya perjuangannya masing-masing, dengan bising ataupun dalam hening. Di medan perang ataupun di dalam masyarakat.

Sebagai sebuah film perang yang menceritakan tentang evakuasi, film ini mampu menyihirmu masuk dan merasakan semua gejolak emosi yang terjadi. Betapa setelah jatuh dan patah berkali-kali, kemanusian menyelamatkan dan menyambut mereka yang notabenenya kalah seperti pahlawan. Tentang harapan dan perjuangan.

“Kita harus memperjuangkan pulau kita berapapun harganya. Dari pantai, darat ataupun udara..”

*sebelumnya review ini sudah dipublikasikan di kabarkampus

Advertisements

3 thoughts on “[review] Dunkirk, Film Perang yang Intim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s