[review] Banda – Jejak Rempa yang Terlupa

 

014fcb56-553f-487b-a7dc-a7f1eace64f6_34

Banda, 2017 – Google

 

 

“Film dokumenter masuk bioskop?” Iya, film yang berjudul “Banda : The Dark Forgotten Trail” ini adalah film dokumentasi yang bertutur tentang kepulauan Banda di tahun 1500.

Reza Rahardian dipilih sebagai narator untuk bahasa Indonesia dan Ario Bayu sebagai narator untuk bahasa inggris. Film ini dibuka dengan pemandangan indah yang begitu memukau meski dengan tone yang terasa begitu dingin dan relatif agak gelap.

Bergulirnya cerita, tone perlahan-lahan berubah menjadi lebih hangat. Sentuhan ini terasa begitu dramatis, sehingga mau tak mau memberi sensasi yang berbeda bagi penonton, seakan ikut terbawa dengan emosi yang ingin dituturkan film. Kepiawain dan kreativitas yang patut diacungi jempol dari film yang disutradarai oleh Jay Subyakto ini.

Film ini berkisah tentang harga pala yang lebih mahal dari emas. Tentang sejarah megah dari pala yang membuat bangsa asing datang ke Banda untuk berdagang. Tentang cerita berdarah pembantaian besar-besaran pertama yang terjadi di Nusantara juga akibat pala. Tentang benteng-benteng ciamik yang dibangun juga karena pala. Tentang pencampuran berbagai budaya masyarakat Indonesia yang terkumpul di Banda juga karena pala. Tentunya tak lupa cerita tentang nasib-nasib petani pala yang ada di Banda kala ini.

Untuk sebuah film, Banda tak menyimpulkan apa-apa. Banda hanya membeberkan semua sejarah indah dan kelam yang pernah terjadi di sana. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang paham akan sejarahnya? Maka jika ingin mencintai Indonesia, potongan sejarah Banda adalah salah satu yang wajib kita cermati, sebagai pelajaran sebagai peringatan.

Mendapati film-film semacam Banda bisa menembus bioskop-bioskop besar memang hal yang luar biasa. Semoga saja ini penanda bahwa para penonton sekarang lebih mau dan peduli pada sejarah bangsanya. Film dokumenter tentang pulau penghasil Pala terbaik di dunia yang berdurasi 93 menit ini membuktikan kualitas anak bangsa yang telah mampu membuat film luar biasa setera dokumentasi National Geographic.

Saran saya, tontonlah film produksi dari lifelike picture ini selagi masih tayang di bioskop. Detil pengambilan gambar dan sudut-sudut yang dipilih mampu membuatmu terperangah. Sungguh!

Lalu jangan lupa, semua yang dituturkan dan dipigura adalah nyata. []

Tulisan ini sebelumnya terbit di kabarkampus.com

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s