[review] The lives of Others

thQD9QU4HC

gambar dari google

Saat banyak film menyuarakan tentang hak-hak warga yang sering kali dirampok secara paksa dengan cara yang bombastik, film yang disutradarai oleh Florian Henckel ini menyuarakannya dalam diam.

Florian Henckel menjahit tiap detil adegan dengan begitu rapi sehingga meski film ini bisa dikatakan bisu dari sisi korban namun punya efek yang begitu kuat.

Film berjudul “The Live of Others” bergulir selama 137 menit ini berkisah tentang pengintaian seorang penulis bernama George Dreyman yang diperankan oleh Sebastian Koch. Dia dicurigai punya kemungkinan untuk membelot dari paham Sosialis Stasi di East Jerman pada tahun 1984.

Bayangkan, baru kemungkinan saja, sudah membuatmu berhak untuk dimata-matai.

Orang yang ditunjuk untuk memata-matai Sebastian adalah seorang Kapten polisi rahasia Stasi bernama Gred Wiesler. Kabel-kabel dipasang, dan alat pendengar tak pernah lepas dari telinga. Mesin tik terus berbunyi untuk melaporkan setiap detil kejadian yang terjadi di lantai bawah. Bahkan ketika George sedang bercinta dengan pacarnya yang bernama Christa Maria diperankan oleh Martina Gedeck tetap harus dituliskan.

Keahlian sang sutradara yang harus dipuji adalah menyelipkan nilai kemanusian yang sebenarnya hilang dalam proses pengintaian ini. Membuat orang yang tadinya merasa berhak mengambil privasi siapa saja menjadi bersimpati dengan hidup orang yang diintainya.

Beberapa drama mewarnai, untuk memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh Stasi ketika itu. Salah satu sutradara yang di-blacklist hanya karena beberapa ucapannya yang terdengar melawan Stasi. Orang-orang yang rumahnya dipasangi kabel. Kehati-hatian dalam bersikap dan bertindak yang terasa begitu mengatur.

Di sisi lain, digambarkan juga betapa kedisiplinan dengan semua perintah itu membuatmu seperti robot. Kosong, bahkan tak punya seorangpun teman untuk berbagi cerita. Perasaan-perasaan ini disampaikan tentunya dalam diam dan detil-detilnya. Bukan disuarakan tapi dapat dirasakan oleh penonton.

Puncak konflik muncul, ketika sebuah artikel yang mampu mencoreng kaum sosialis diterbitkan. Artikel tersebut kemudian menjadi kontroversial dan membuat perampasan hak-hak sipil kian menjadi. Beberapa konflik dan plot twist terjadi di sini.

Tak ada satupun adegan pemukulan dalam film. Dua karakter utama bahkan tak pernah ada di satu scene yang sama, tak pernah benar-benar berinteraksi. Hanya satu orang yang sadar akan keberadaan dan segala rahasia terdalam dari yang lain.

Film ini penuh sinisme yang dilebur dengan begitu menyatu. Seperti obat pahit yang dituangkan pada teh dan diaduk secara rata. Menyatu, hangat dan tetap meninggalkan rasa pahit di lidah.

Akhir dari film ini luar biasa.Tapi sungguh film ini bercerita dengan caranya sendiri tentang negara, tentang paham komunis, tentang kemanusiaan, dan tentang menjadi manusia.

Untuk film yang bercerita tentang topik seberat ini, film diakhiri dengan begitu hangat. Satu dari banyak film yang penting ditonton di era sekarang. Di mana media telah membuat kita menjadi spy-spy baru untuk hidup orang lain. []


sebelumnya tulisan ini sudah dimuat di kabarkampus.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s