[review] Queen of Katwe

Soon, men will start coming after me. Where is my safe square, Coach? I fear certain things will never change, Coach.”

 

Queen_of_Katwe_Soundtrack

picture from google

 

Seperti ciri khas dari film Disney, Queen of Katwe juga dibumbuhi dengan segala percakapan quote-able. Seperti petikan berikut

“in chess the small one can become the big one.”

Satu hal yang berbeda, film ini diangkat dari kisah nyata gadis miskin penjual jagung di sudut kota Uganda bernam Katwe. Salah satu gadis pertama yang berhasil mendapatkan gelar WCM (woman Candidate Master) catur di Uganda.

Pada beberapa menit pertama film ini, saya masih terheran-heran. Scene awal dari film ini dibuka dengan perkampungan kumuh di pinggiran kota Uganda bernama Katwe. Dari sebuah gubuk reyot yang tidak pantas disebut rumah, keluarga Phiona sang tokoh utama tinggal. Kelakar sang sutradara Mira Noir tentang hal ini, “ini mungkin satu-satunya film disney pertama yang dibuat di Afrika tanpa satupun hewan di dalamnya.

Keluarga Mutesi terdiri dari 2 anak perempuan, 1 anak laki-laki dan 1 bayi kecil. Phiona tak lagi memiliki ayah dan peran ibu begitu kuat dan berkarakter dimainkan oleh bintang ternama Lupita Nyong’o. Sang ibu sebagai orang tua satu-satunya punya karakter yang begitu keras serta berusaha sepenuh tenaga demi menghidupi keluarganya.

Phiona dan sang adik Bryan, setiap hari membantu ibunya berjualan jagung. Berjalan kaki dengan nampan penuh jagung menembus pasar-pasar Uganda. Kehidupan meraka berubah tak kala bertemu dengan Robert Katende. Pelatih catur yang diperankan oleh David Oyelowo, engineer muda yang berkerja sebagai pelatih klub sepakbola di salah satu sekolah misionaris di Katwe.

Robert punya keprihatinan besar pada anak-anak di sini. Dengan iming-iming awal bubur gratis, Robert mengajari anak-anak Katwe cara bermain catur. Phiona salah satu murid paling berbakat di kelompok catur yang dinamakan Pionir ini.

Kisah ini bergulir dengan cepat, debut awal pionir dimulai ketika Katende dengan segala cara mengumpulkan dana dan mendaftarkan mereka di salah satu perlombaan catur di sekolah ternama Uganda. Sejak itu nama Phion Mutesi mendapatkan sedikit sorotan.

Kemampuan catur Phiona terus berkembang, sedangkan di sisi lain kehidupan pribadi Phiona masih jauh dari kata membaik. Phiona sempat terjebak di antara angan-angan dan mimpi sesaat, lalu  beberapa kejadian besar memukulnya.  Phiona hampir menyerah, namun Katende terus meyakinkan Phiona dan ibunya untuk terus berjuang. Berjuang bukan hanya untuk menjadi yang terbaik tapi berjuang untuk kehidupan mereka besok.

Film berdurasi 124 menit ini memang bukan film ringan. Berkali-kali saya meneteskan air mata, terutama untuk fakta bahwa apa yang sedang saya tonton adalah potongan kisah hidup dari manusia nyata bernama Phiona Mutesi.

 

Meskipun ending dari film ini telah diketahui, namun perjuangan yang tergambar di film ini pantas untuk ditonton. Terutama bagi mereka yang sedang mengejar mimpi. Film ini akan menjadi suntikan energi baru untuk menyemagatimu bahwa tak ada yang tak mungkin.

*review ini sebelumnya sudah muncul di kabarkampus.com

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s