[Diary] Ubud Sekut

photo-10-31-16-1-16-11-am

Bertemu dengan orang-orang yang tepat akan membuatmu penuh, dan kalian membuat saya berlimpah-limpah. Terima kasih.

Dear Ubud Sekut,

Menjadi bagian dari festival UWRF bersama para sepuh-sepuh seperti kalian sungguh sebuah kemewahan. Terima kasih

Ketua geng kita chriswan pernah berkata pada saya suatu kali, teman-teman yang bisa ditemui di festival ini seperti suadara kembar siam. Kamu akan terheran-heran mendapati jiwa-jiwa yang serupa hanya berbeda badan denganmu.

Setelah pertemuan dengan Ubud Sekut, mau tak mau saya percaya.

Jujur, tadinya saya meragukan pernyataan itu. Tapi setelah mampu melanjutkan perbincangan hingga subuh dengan Martha di hari pertama bertemu, saya menelan bulat-bulat ragu saya. Terima kasih.

Menghabiskan sore dengan mempercantik kuku bersama sohib itu satu dari banyak list yang sudah lama ingin bisa saya lakukan, lalu Martha dan Alia mewujudkannya dengan tanpa usaha. Terima kasih

Perjalanan panjang menuju Kakiang yang kalian daulat sebagai toko kue terenak di Ubud. Enak? Ya, tapi buat saya Kakiang itu jadi tabungan kenangan. Tiap gigitannya akan merupa kenangan manis yang membuatnya terasa nikmat. Terima kasih

Perjalanan pulang yang diwarnai lelucon-lelucon cerdas Tia yang super. Cat café dan segala prostitusi tentang kucing itu akan saya ingat sepaket dengan sunyi adalah bunyi yang sembunyi. Malam itu tak ada bintang tapi hati saya hangat. Terima kasih

Pagi-pagi di Bisma Sari yang penuh pelukan dan perbincangan tentang bubur bali atau baguette dan chiabata. Okey, saya lapar. Cukup.

Nama Rio Helmi akan punya kenangan manis sendiri setali dengan juice lime mint nikmat yang kita jarah dengan semena-mena. 15.000 rupiah harga kebahagian yang kita sepakati sembari menjilat Dairy Queen senja itu. Tebakan saya, ke-impulsif-an kita yang membuat ice grim sore itu begitu melekat di lipatan hati. Terima kasih.

“saya tau kamu di mana..” akan selalu jadi kalimat yang mengingatkan kita pada Gunung Kawi dan tangga-tangga yang menyadarkan saya semakin tua dan butuh olahraga.

Omelan tentang transportasi dan “you know who” akan selalu jadi topik perekat omongan yang berhasil membuat kita berapi-api. Apa kalian masih dongkol? Akh melewati semua ke-tak-jelas-an itu bersama kalian meringankan beban. Support group. Terima kasih

Akhirnya, bukan tanah para dewa yang membuat saya tergila-gila tapi kamu. Saya akan jadi satu dari penggemar Kakiang bukan untuk kenikmatan kuenya tapi demi remah-remah kenangan dan aroma rasa yang membaurnya semakin enak di tiap gigitan rare cheesecake atau tegukan anggur.

Saya tak menemukan kata yang cocok untuk hubungan ini selain ikut menamainya sekut. Disekut bukan disikut pesan Lisa.

Sebanyak apapun gigitan bed bugs yang kita peroleh di Bisma Sari, Hotel yang seakan sedang memakan dirinya sendiri bersama waktu itu akan selalu terpatri bergandengan dengan pelukan-pelukan pagi dan obrolan-obrolan absurd menyambut subuh. Duh saya rindu.

Oh kenangan heboh di closing night akan jadi cerita istimewa ubud sekut yang disimpan rapat-rapat. Tenang.

Tulisan ini mungkin terpatah-patah tapi yakinlah cinta saya pada ubud sekut sepenuh air kolam bisma sari yang selalu luber.  Terima kasih membuka bukan hanya grup tapi hati untuk saya. Jaga diri dan selalu berbahagia di manapun berada.

Bertemu dengan orang-orang yang tepat akan membuatmu penuh, dan kalian membuat saya berlimpah-limpah.

 

Love you all

 

Dago 485, 2016-11-05

Ivy

*biru yang masih merindu

Advertisements

2 thoughts on “[Diary] Ubud Sekut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s