[review] Storks: Dogeng Anak-Anak untuk Orang Tua

m-storks

picture from google

Film animasi “Storks” besutan sutradara Nicholas Stoller dan Doug Sweetland mengisahkan tugas mulia para burung bangau. Situasi berubah ketika kemunculan seorang bayi perempuan.

Nicholas Stoller menjadikan dongeng ini sebagai tulang punggung cerita dan membungkusnya dengan sentuhan humor yang lebih sesuai dengan masa sekarang. Dulu sekali bangau bertugas mengantarkan bayi, namun sebuah tragedi membuat bangau ini berhenti mengantarkan bayi.

Para bangau yang punya tubuh besar dan terbiasa bermigrasi beralih fungsi menjadi kurir pengantar barang yang cekatan dan bisa diandalkan ke seluruh dunia. Perusahaan pengiriman para bangau ini dibangun jauh di puncak sebuah bukit bersebelahan dengan pabrik bayi yang kini tak lagi dipakai.

Masalah muncul ketika bangau bernama Junior (Andy Samberg) ditawari posisi untuk mengantikan bos diktator (Kelsey Grammer). Sebagai syarat kenaikan pangkat, Junior ditugasi untuk memecat Tulip (Katie Crown).

Bayi perempuan yang gagal dikirimkan dan menjadi tragedi terburuk dalam sejarah pengiriman bayi bagi para bangau. Tulip yang ceroboh dituduh menjadi penyebab turunnya omset perusahan bangau bernama Cornerstore.

Junior yang tidak tega melakukan pemecatan, meletakan Tulip di dalam pabrik bayi lama dan menugaskannya sebagai manager tempat tersebut. Nate seorang anak manusia di bumi, rindu memiliki seorang saudara. Ayah dan ibu Nate yang workoholic membuat Nate kesepian.

Ditulislah sebuah surat permintaan pada The storks “ baby with a ninja skill!” begitu pinta Nate.

Klimaks dari permasalahan ini, ketika surat Nate diproses oleh Tulip dan seorang bayi mungil muncul dan siap untuk diantarkan. Perjalanan mengantarkan bayi kecil tanpa sepengetahuan bos menjadi naik turun jalan cerita, diselipkan banyak lelucon luar biasa yang membuat anak-anak tertawa namun merupa cubitan bagi para orang tua.

Film “Storks” bukan sekedar cerita dogeng yang ditambahi sentuhan humor tapi dijahit dengan begitu telaten untuk kepentingan yang lebih mulia. Sentilan-sentilan kecil tentang nilai-nilai penting menjadi orang tua. Mengingatkan kembali pada para orang tua, hal terpenting apa yang dibutuhkan anak-anak mereka.

“Ayah kamu masih akan jadi idolaku untuk 2 tahun lagi” teriak Nate, lalu berbisik “Saya belum lagi menjadi abg yang menyebalkan! “Waktu akan berjalan cepat dan memori adalah hal yang berharga” keluhnya di akhir kekesalan ketika sang ayah tak memiliki waktu untuk bermain dengannya.

Lelucon di film ini satir, sebagai pengingat tentang kenyataan menjadi orang tua baru.

Pembagian tugas menjaga bayi, betapa sulit membuat bayi tertidur dan di atas semua itu, tentang komunitas modern sekarang yang tak lagi ingin memiliki anak. Putus harapan dengan alasan apapun.

Bagi anak-anak film berdurasi 89 menit ini seperti gulali manis yang begitu mudah dinikmati, namun bagi remaja dan orang dewasa coba kunyah lebih dalam, ada pesan dan peringatan yang cukup pedas.

Seperti semboyan dari cornerstore, “always deliver!” semoga pesan pesan moral yang dititipkan dalam film ini tersampaikan. Bisa saja kamu menginginkan seorang bayi karena film ini. Jadi berhati-hatilah dan siapkan hati!

Tulisan ini sebelumnya sudah di publish di http://www.bandungnow.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s