[review] The Danish Girl, Pelukis Dengan Dua Jiwa

Film kontroversial berlatar awal abad ke-19 ini bercerita tentang kisah nyata Einar Wegener yang ingin menjadi Lili Elbe. Orang pertama yang berani melakukan operasi pertukaran kelamin atau yang lebih kita kenal dengan nama trans-gender.

the_danish_girl_film_poster

gambar dari google

Tom Hooper membuat film ini dengan begitu rapi menggunakan sudut pandang yang prestise dan mengekpose isu-isu tabu dengan lebih manusiawi. Menjadi kaca pembesar untuk melihat lebih dekat dan lekat tentang segala perlawanan dan perjuangan seorang perempuan yang terperangkap di dalam tubuh seorang pria.

Einar Wegener adalah pelukis landskap berkebangsaan Denmark yang kisahnya dituliskan oleh David Ebershoff dalam sebuah novel yang kemudian diadaptasi menjadi film. Inilah asal muasal dari judul Danish Girl, Gadis Denmark.

Lucinda Coxon ditunjuk untuk menuliskan skrip dari film ini.

Kemunculan film ini di akhir 2015 dinilai sebuah momentum yang tepat, ketika isu transgender, gay dan lesbian sedang marak-maraknya dibicarakan di mana-mana.

Selama 120 menit menyaksikan film ini, penonton diajak masuk lebih intim dan paling banyak berkutat pada emosi Einar dan Gerda, istri sah yang dinikahi Einar. Gerda yang ditempatkan di tengah situasi yang membuatnya menjadi serba salah.

Di satu sisi Gerda merasa menjadi pemantik perubahan Einar sedang di sisi lain karir Gerda sebagai pelukis portrait berkembang pesat justru berkat sosok Lili yang ditampilkan Einar.

Pada akhirnya seorang Gerda tetap digambarkan mencintai suaminya meski dengan sosok yang berbeda. Ketulusan yang mampu membuat semua orang merasa tersentuh mengingat ini adalah sebuah kisah nyata.

Peran yang dimainkan Alicia Vikander sebagai Gerda dan Eddie Redmayne sebagai Einar dan Lili pantas diacungi jempol. Rasanya tidak salah ketika sekali lagi Eddie Redmayne mendapatkan Oscar untuk aktor terbaik. Begitu pula Alicia Vikander mendapatkan Oscar untuk pemeran pembantu terbaik dalam film ini.

Film Danish Girl tidak terlalu menyoroti masalah-masalah yang ada diluar kedua tokoh utama, seperti penerimaan publik ataupun penyebab mengapa Einar merasa memiliki dua jiwa dalam satu tubuh.

Film ini mencoba menjadi catatan kecil yang dapat ditelaah lebih dalam sebelum berkomentar dan menuding para transgender. Memberikan sedikit jedah bagi mereka yang punya pertengkaran batin hebat dengan dirinya sendiri. Danish Girl dihadirkan di saat yang tepat ketika isu-isu tentang gender, orientasi seksual sedang hangat-hangatnya dan heboh diperbincangkan.

Hal ini tentu menjadi sorotan tambahan tersendiri untuk film yang pastinya tidak akan mungkin ditampilkan di bioskop-bioskop Indonesia. []

 

*tulisan ini sebelumnya sudah dipublish di http://kabarkampus.com/2016/08/the-danish-girl-pelukis-dengan-dua-jiwa/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s