[Review] The Lobster; Sentilan Untuk Kenyataan

 

6dfe0-1

the lobster, google

The  Lobster  merupakan film  pertama  besutan sutradara  Yunani, Yorgos Lanthimos,  yang menggunakan bahasa Inggris. Di film ini diceritakan bagaimana tiap manusia harus memiliki pasangan, sehingga sang tokoh utama David (yang diperankan oleh Colin Farrell) yang baru saja ditinggalkan oleh istrinya harus segera dikarantina dalam sebuah hotel selama 45 hari guna mencari pasangan baru.

Film ini diawali oleh David yang bertanya kepada orang yang akan membawanya, apakah laki-laki yang membuat istrinya lari darinya menggunakan kacamata atau kontak lens. Pertanyaan aneh yang akan terjawab nanti, seiring dengan berjalannya film.

Lanthimos menjahit film ini dengan sangat brilian, tajam, dan rapi. Lelucon-lelucon satir yang diselipkan mampu membuatmu sedikit meringis dan berpikir ulang. Tentang aturan-aturan yang kaku dan membelenggu, batas abu-abu menjadi daerah terlarang. Hal ini terlihat pada salah satu adegan awal ketika David sampai di hotel, di mana ia ditanyai preferensi seksualnya. Ketika David menjawab ia biseksual, ia segera diperintahkan untuk memilih salah satu dari pilihan yang tersedia: homo- atau heteroseksual. Sama halnya dengan ukuran sepatu David: 44,5. Di hotel itu hanya tersedia ukuran 44 atau 45.

Dalam 45 hari jika orang-orang yang tidak memiliki pasangan ini tidak menemukan pasangannya, maka mereka harus bersiap sedia untuk diubah menjadi binatang. Manager Hotel menegaskan bahwa seandainya kelak menjadi binatang, hal ini merupakan kesempatan kedua untuk mencari pasangan. David memilih untuk menjadi lobster. Mengapa lobster? Luangkan 118 menit waktumu untuk mencari tahu jawabannya sendiri.

Film ini tidak hanya berlatar hotel tempat para single dikumpulkan dan dipaksa hidup seragam untuk segera menemukan pasangan, namun juga hutan yang berisi para “loner”, orang-orang pemberontak yang dianggap mangkir dari peraturan untuk hidup berpasangan. Di saat-saat tertentu, para peserta single ini akan diberikan waktu untuk berburu para loner, di mana setiap loner yang tertangkap akan menghasilkan tambahan jumlah hari hidup sebagai manusia bagi yang menangkapnya. Hukum harus ditegakkan; siapapun yang membantu menegakkan hukum akan dihargai lebih.

Hingga akhir, satu hal terus ditekankan: Kesamaan. Betapa untuk jatuh cinta dan menjadi pasangan butuh kemiripan dari kedua belah pihak. Dan tentunya dalam situasi tertentu, kemiripan atau bahkan kesamaan itu dapat diusahakan, tidak perlu natural. Lanthimos juga mencitrakan kebutuhan untuk menjadikan pasangan sebagai refleksi diri dengan nada yang lebih mencibir atau bahkan mencemooh, ketimbang menyanjung, apalagi menjunjung.

Film ini lebih dari sekadar lelucon satir tentang hubungan dua manusia. Banyak sentilan tajam yang jika mau diakui memang sedang terjadi di lingkungan kita saat ini. Meski dengan segala kesatiran dan sinismenya, film ini diceritakan dari sudut pandang orang ketiga, sehingga terasa lebih mengalir dan mudah dinikmati. Di akhir kita akan mengerti, mengapa Lanthimos menggunakan sosok perempuan (diperankan Rachel Weisz)sedari awal untuk menceritakan kisah David kepada penonton.

 

lobster_votfpoc

the lobster, google

Efek dari film ini pada masing-masing orang sulit untuk diprediksi. Banyak emosi tersembunyi yang coba dipanggil ke permukaan dari segala lelucon satir yang disajikan. Hanya mengingatkan, film ini sungguh jadi pilihan yang riskan jika ditonton bersama pasangan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s