[Thought] Terapi Kewarasan

waerabo1

a beautiful morning in wae rabo, flores

“Menulis itu proses memuntahkan ganjalan di hati dan otak. Terapi untuk tetap waras.”

Pernah merasakan pesta pora di kepala? Terbangun di tengah tidur dan begitu ingin memuntahkan gumpalan asa tak bernama yang menyesakan ulu hati. Lalu apa yang kamu lakukan? Saya menulis. Menulis, menulis, dan menulis hingga tangan ini kaku, hingga lelah, hingga lega. Menulis jadi terapi paling efektif untuk membuat saya tetap waras dalam segala kegilaan pesta yang ada di kepala.

Dulu saya tak pernah menyadari, betapa besar efek menulis untuk membuat dunia saya berjalan dengan pola yang seimbang. Butuh proses panjang yang cukup berliku hingga kesimpulan ini tersadari. Menuntut ilmu jauh dari rumah, pelajaran yang menyita hampir seluruh lipatan otak, roman picisan yang membuat hati bermain roller coaster, semua kecamuk yang terus memenuhi hari-hari dan menyesaki malam-malam saya. Kesesakan ini akhirnya kembali menghantarkan saya pada menulis.

Tahun 2008, jadi tahun pertama saya mulai berani menuliskan semua muntahan rasa ke blog pribadi saya. Ada malu, ada enggan, ada takut, ada ragu, ada bermacam rasa menggantung ketika pertama kali melakukannya. Untungnya saya 8 tahun lalu, punya keberanian yang sungguh harus saya syukuri. Sejak itu saya mengenal kelegaan rasa yang tak terjelaskan begitu tulisan selesai dimuntahkan. Rasa lega yang pada akhirnya menjadi terapi terbaik untuk tetap waras.

Tulisan-tulisan awal saya dimulai dengan cerita-cerita labil tentang apa saja yang saya lihat, apa saja yang saya rasa, tentang ide, tentang kegilaan, tentang dunia dari kacamata saya. Ingat betul betapa bewarna-warni blog saya di tahun-tahun itu. Setiap warna saya identikan dengan perasaan ketika menuliskannya. Tulisan dengan warna kuning menandakan saya sedang ceria, tulisan bewarna abu menandakan saya sedang bimbang, biru tentu saja ketika saya sedang sentimentil. Blog saya terlihat seperti blog anak TK yang belajar mengkategorikan rasa. Sedikit berlebihan, tapi itulah saya 8 tahun silam.

Di akhir saya sadari, proses menulis ini yang membuat saya menjadi saya yang sekarang. Menjadi orang yang jauh lebih terbuka, bertemu teman-teman baru, memandang dunia dengan cara yang lebih lebar. Terpenting dari semua, tetap waras dari segala kegilaan hati dan kepala. Berdamai dengan diri.

Seringnya kita sadar dengan segala jawaban yang kita cari, hanya tak punya keberanian untuk menuliskannya. Apa kamu punya keberanian menuliskannya?

Bandung, 2016-3-3

Ivy

*biru dengan candu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s