[Diary] Senrepita 

Menurut saya, derajat tertinggi dari berpetualang adalah sempat merasakan hidup seperti masyarakat lokal. Menghidupi hidup yang mereka lakoni hari demi hari. Tentu ini bukan perkara mudah dan kesempatan semacam ini sangat jarang bersua, hingga minggu lalu dengan segala hal-hal dramatis yang ada saya bertemu dengan keberuntungan itu. Menikmati Jogja seperti orang Jawa dengan cara mereka.

Beberapa peristiwa sambung menyambung dan berkospirasi untuk membuat saya tetap menjadi penikmat Jogja dengan cara sederhana. Dari percakapan-percakapan tentang falsafah Jogja, dari makanan-makanan kampung dengan harga yang membuatmu terkejut, dari kesungkanan orang-orang Jawa menghargai tamu, dari cerita-cerita personal yang menyentuh kalbu, dari tindakan sesanggup diri dalam menawarkan bantuan, dari petuah-petuah yang meluncur deras tanpa menggurui, dari teh yang disuguhi setiap sore..

Terlepas dari semua tempat turistik yang belum saya datangi, perjalanan ini terasa lebih personal dan jelas tak akan mungkin terulang. Oven rusak dan menemani dua mahasiswa Taiwan di ruangan ICU, menjadi patner dalam krisis kata teman saya, sungguh sebuah kehormatan tersendiri bisa hadir dan berbagi momen ini dengan keluarga kecil hangat di senrepita. Terima kasih untuk kesempatan dan kehangatan yang ditawarkan.

  

a warm mole in Jogja

Senrepita, 2016 – 3 – 19

Ivy

*biru dalam haru biru

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s