[Story] Wisata Diri

image

                        Diambil di sutera harbour, Kota Kinabalu

Perjalanan sendiri sering kali menakutkan dan menyedihkan saat belum dijalani. Siapa yang tidak takut berjalan sendiri di tempat asing? Siapa yang tidak sedih tak ada teman diajak berbagi cerita lucu di sepanjang perjalanan? Siapa yang mau makan sendiri di restoran? Singkat kata, kita takut kesepian. Siapa tidak?

Kesepian hal lumrah yang pasti pernah dirasakan oleh tiap manusia dengan intensitas dan batasan masing-masing. Tentu kamu akan menyebut saya munafik jika saya bilang tidak pernah merasa kesepian saat berpetualang sendiri, bohong besar. Perasaan itu pasti ada namun bukan hal dominan dibanding dengan segudang kelebihan yang ditawarkan. Masa sih?

Menurut saya setiap insan wajib melakukan wisata diri atau dikenal dengan solo traveling minimal sekali seumur hidup. Mengapa? Ada setidaknya dua keuntungan utama yang didapat dari kegiatan positif ini. Mengenal diri tanpa interferensi dan menambah relasi.

Saat berwisata diri, kita punya waktu paling intim dengan diri sendiri. Menggauli diri dengan lekat, memahami pribadi, memutuskan banyak hal tanpa campur tangan pikiran lain. Hanya kamu dan kamu, quality time.

Kita butuh merasa nyaman dengan diri sendiri, mengenal lebih dekat siapa banyangan yang selalu dipandang dibalik kaca. Kadang kala tak mudah menjadi sendiri di antara segala tekanan dan himpitan dari berbagai pihak dan aspek.

Wisata diri seperti tarikan nafas di tengah sesaknya paru-paru yang kehabisan oksigen. Berhenti sejenak, bercengkrama akrab dengan dirimu lalu bertanya apa kabarmu? Serupa sahabat lama yang terpisah. Awal pertemuan mungkin sedikit kaku namun semakin seringnya intensitas pertemuan, kamu semakin paham dan lebih paham. Mengenal siapa sejatinya diri dan berbangga akannya, dengan lebih dan kurangnya.

Kembali membahas tentang ‘kesepian’ , pada dasarnya manusia makhluk sosial yang butuh kehadiran orang lain. manusia punya magnet tak terlihat yang akan menariknya satu dengan yang lain terutama saat sendiri. Kamu akan lebih mudah berbaur dan berelasi. Percayalah..

Selama berwisata diri jangan mencari patner yang ramah tapi jadilah patner yang ramah. Buang semua ketakutan dan kesombongan diri lalu mulailah tersenyum. Senyuman selalu jadi jurus jitu untuk memulai interaksi. Silahkan coba lalu bantah saya jika salah.

Bagi yang berwisata ke luar negara jangan panik, kendala bahasa dapat diserahkan pada om google yang maha luar biasa. Saya membuktikannya dan itu berhasil. Pastinya obrolanmu akan tersendat-sendat, namun mimik dan bahasa tubuh tak berbohong. Tersenyum yang banyak kunci untuk memperlancar.

Saya yakin, saya bukan orang pertama yang berkata “kamu tak mungkin sendirian dalam perjalanan. ” Kamu percaya? Jika tidak tunjukan bukti bahwa kata-kata itu salah. Bagi yang percaya silahkan mulai kencan dengan dirimu sesegera mungkin.

image

                       Diambil di Jeselton point, kota Kinabalu

Selama perjalanan buka mata dan hatimu, serta tetaplah berhati-hati..

T, 2014-7-13
Ivy
*biru dengan euforia wisata

Ps : Banyak yang takut kalau sendiri ga ada yg motoin, ga dapat foto bgus. Siapa bilang? Jarang nemu foto bgus, tapi bukan ga mungkin. Semua foto di post ini saya ambil dengan tripod dan tentunya kreatifitas 😉

Posted from Negeri Biru

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s