[Story] Travelling (never) Alone

siem reap, cambodia

Saya jatuh cinta dengan pemandangan di jalan ini

Siapa yang tidak suka mengunjungi tempat baru dan melihat hal-hal baru? Dapat dipastikan semua orang menikmati momen ‘perjalanan’ , terlepas dari masalah waktu dan keuangan. Saya tidak akan berpanjang-panjang dengan masalah perencanan, saya lebih tertarik membahas tentang Solo travelling.

Sebagai perempuan yang berasal dari Asia lebih tepatnya Indonesia, saya merasa banyak pandangan dan ketakutan yang dibebankan ke pundak perempuan. Salah satunya betapa tidak mungkin dan sebaiknya tidak dicoba untuk melakukan perjalanan jauh sendiri. Alasan utama pastinya soal keselamatan.

Goergetown, Penang adalah kota pertama yang saya datangi sendiri, intim. Ada perasaan bebas dan tunas kepercayaan diri yang tumbuh perlahan bersamaan dengan perjalanan tersebut. Seperti candu yang perlahan menelusup ke nadimu dan mengalir bebas di darahmu.

Maret lalu saya kembali memutuskan melakukan perjalanan solo dengan lompatan yang lebih jauh. Saya menargetkan mengunjungi 3 negara dalam 2 minggu, ya waktu yang minim untuk mimpi yang besar. Setelah pertimbangan matang terpilihlah Siem reap (Cambodia), Ayutthaya (Thailand) dan Luang Prahang (Laos).

Saya dipenuhi antusias, tentunya juga dengan segenggam takut yang coba ditata. Tujuan pertama saya adalah Siem Reap, Cambodia. Untuk destinasi pertama, seorang teman dari Bandung bersepakat menemani saya di detik terakhir. Kami bertemu di Kuala Lumpur dan terbang menggunakan air asia direct menuju Siem Reap. Perjalanan duo berakhir di Bangkok,  ketika teman saya kembali ke Bandung dan saya melanjutkan perjalanan solo ke Ayutthaya.

sr99

Namanya buah susu dan katanya cuma ada di Siem reap. Rasanya seperti perkawinan manggis dengan sawo


sr72

Kecewa dengan sunrise yang tak kunjung muncul terobati dengan foto lautan manusia. Kecewanya dibagi bersama

Saya memilih kereta api kelas 2 untuk mencapai Ayutthaya. Alasannya waktu dan harga yang lebih bersahabat dengan saya. Alasan lainnya, saat menggunakan transportasi kelas rakyat, kamu punya lebih banyak kesempatan berinterkasi dengan masyarakat asli. Benar saja, saya bertemu dengan seorang perempuan muda yang tidak lancar berbahasa inggris namun begitu gigih dan baik hati menjelaskan pada saya, kereta kelas 2 tidak ada nomer kursi hanya ada nomer gerbong. Betapa tersentuhnya mendapati masih banyak orang baik di dunia ini.

a7

Orang Thailand menempelkan semacam kertas kecil bewarna emas di patung budha ketika berdoa. Mungkin pralambang permohonan. Ntah..


a10

Kamu tidak bisa mendapatkan foto sunrise di Ayutthaya, tapi rasa tentram dan nyaman yang ditawarkan sama beharganya

Ntah ini kebetulan atau memang beginilah proses berpetualang sendiri. Sesampainya di Ayutthaya saya bertemu dengan seorang turis dari Japan. Maksud hati ingin menanyakan letak perahu penyeberangan, berujung dengan cerita tak runtun dengan bahasa yang terbata-bata dan penuh tawa. Hal hebat selanjutnya dengan bahasa inggris seadanya saya dan kaori jadi patner untuk berkeliling Ayutthaya. Terbaik dari semuanya saya ditawari kamar gratis dan saya punya seorang sabahat baru.

a14

Percayalah ini kaki saya dan Kaori

Kami tak punya banyak waktu di Ayutthaya, keesokan paginya saya menghantarkan Kaori ke bus dan malamnya saya melanjutkan perjalanan menggunakan kereta malam ke Nong Khai. Di station Nong khai saya bertemu dengan dua pria tinggi dari Jerman yang punya tujuan sama untuk menyebrang ke Vientiane. Kami menyewa tuk tuk bersama dan melanjutkan perjalanan menyeberangi friendship bridge antara Thailand dan Laos dengan bus.

Sayangnya imigrasi untuk para turis yang butuh visa cukup panjang, akhirnya saya putuskan untuk melambai pada teman baru saya dan melanjutkan perjalanan sendiri menuju pusat Vientiane dengan public bus. Sesampainya di Vientiane saya mencari guess house untuk sekedar mandi dan merebahkan ransel, juga memesan tiket ke Luang Prahang.

Hampir semua guess house di Vientiane menawarkan jasa membelikan tiket bus malam ke Vang Vieng atau Luang Prahang. Potongan yang mereka ambil tidak terlalu besar dibandingkan usaha yang dibutuhkan untuk mencapai terminal sendiri. Dari potongan tersebut mereka sudah menyediakan tuk tuk untuk menjemput di guess house dan menghantarkan ke terminal, penawaran yang sebanding.

Keajaiban lainnya kembali menyapa saya, seorang turis dari Rusia yang menginap di guess house juga menuju luang prahang. Kami dijemput terlalu dini untuk bus yang akan berangkat jam 8, alhasih kami menunggu hampir 1 jam di terminal bus. Rentang waktu yang cukup untuk berbagi cerita, tertawa dan terbahak. Sassha rupanya punya rencana lanjut ke Indonesia, ya Bali. Hampir semua turis yang tau saya dari Indonesia akan berbibar-binar dan berbicara tentang Bali.

lph4

Kuang Si Waterfall, Laos


lph5

pemandangan malam di Luang prahang penuh dengan lampu-lampu cafe

Saya dan Sassha sama-sama belum punya tujuan jelas di Luang Parahang, bahkan kami belum punya resrvasi penginapan. Rencana kami yang belum terencana ini yang justru akhirnya membuat kami jadi punya kesempatan untuk lebih dekat. Kami mencari penginapan bersama dan berakhir menjadi sahabat setelah melewati 3 hari 2 malam bersama di luang prahang.

me sassha

Saya dan Sassha di Kuang Si waterfall

Kami berpisah di terminal Luang Prahang, Sassha melanjutkan perjalanannya ke Chiang Mai dan saya kembali ke Vientiane. Keajaiban ternyata tak berhenti menemani saya selama perjalanan ini. Saya mendapat tiket dengan nomber yang sama ketika berangkat dan tebak teman seperjalanan saya di Bus juga ingin menuju KL. Sophie berasal dari Paris dan akan berangkat ke KL dari Vientiane dengan pesawat air asia yang sama dengan saya. Betapa ini begitu luar biasa untuk disebut kebetulan. Terlalu sungguh terlalu!

Rencana kami yang tanpa rencana itu jua yang akhirnya membuat saya berakhir mencari penginapan bersama Sophie dan kami memuUserstuskan menyewa tuk tuk bersama untuk menuju airport keesokan harinya. Dengan ini berakhirlah petualangan solo seminggu saya yang sama sekali tak sendiri.

Cerita detil tentang perjalanannya sendiri tidak saya ceritakan di sini. Poin penting yang ingin saya bagi adalah ketakutan dan kekhawatiran yang selama ini saya sandang di dalam ransel tidak seberat yang saya bayangkan. Saya hanya perlu melipatnya rapi dan meletakkannya di tempat terdalam yang selalu dapat saya lihat. Menjadi pengingat dan peningkat kewaspadaan saya, namun tak seharusnya menghentikan langkah saya.

me n sophie

Saya dan Sophie di Vientiane airport

Untuk resiko yang saya ambil menjadi solo traveller, saya mendapatkan beberapa sabahat baru sebagai bonus yang tersebar di beberapa negara. Hei.. bukankah itu hadiah luar biasa? Semua tindakan ada resiko dan buahnya sendiri, sekian.

 

T,2014-4-26

*biru berbagi cerita

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s