Letter #1

Hai… aku benci keadaan ini. Selama ini kita selalu melewati fase ini dan mengangap semuanya akan baik2 saja bersama waktu. Tidak sayang, semua tidak serta merta akan baik2 saja, tidak denganku.
Selama ini aku terbuai dengan semua rahasia dan petualangan penuh tantangan yang kau tawarkan. Mungkin aku memang labil yang tak mampu berpikir dgan logika hanya berdasar insting.
Seperti katamu aku hanya menggunakan rasa dengan logika yang sering kali salah. Ya aku mengutamakan rasa, pikir saja dengan logikamu jika aku punya logika jelas tak mungkin aku memilihmu. Betul?
Aku lelah.. ini kata lelah yang mungkin sudah beriburibu kali aku ucapkan namun masih tetap aku lakukan. Aku bodoh? Ya.. akh, sekarang mungkin aku sdkt berlogika, kamu terlalu keras untuk kulembutkan dan aku terlalu lembut dan sensitif untuk menerima kekerasanmu.
Konsep tentang kita tak pernah benar dari pertama, sesuatu yang dibangun dalam gelap jarang mampu bertahan melawan angin. Aku salah terlalu percaya bahwa mampu merengkuhmu.
Hampir 3 tahun dan aku masih di sini menangisi hal yang itu itu saja dengan rasa sakit yang sama bahkan lebih dalam. Aku tak punya lagi cukup inisiatif dan kreativitas untuk mengakali semua.
Melihatmu masih dengan arogansimu dan ke aku an mu yang tetap tak memudar hanya semakin mengirisku bahwa ini memang tak akan berhasil

image

T, 2013-08-13 (22.21pm)
Ivy
*biru menyerah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s