[History] Lasem : Le Petit Chinois

59

kelenteng tertua di Indonesia

Tak banyak yang tau kelenteng tertua di Nusantara berada di salah satu kota kecil yang berjarak 110 km dari Semarang, Lasem. Kelenteng ini bernama Tjoe An Kiong atau dalam bahasa mandarinya Ci Ang Gong yang berarti Istana Belas Kasih dan Kedamaian. Kelenteng ini didirikan untuk pemujaan pada dewi Tian Shang Sheng Mu yang dikenal sebagai pelindung bagi para pelaut. Dewi ini berasal dari pulai Mei Zhou sehingga pemujaan padanya sering juga disebut Ma Zu ato MakCo.

Tak ada catatan resmi kapan kelenteng ini dibangun, namun ketika Belanda masuk pada tahun 1500, kelenteng ini telah tertera di dalam peta Lasem. Dipercaya kelenteng ini dibangun bersamaan dengan masuknya etnis tionghoa di Lasem sekitar tahun 1477. Kelenteng Tjoe An Kiong ini terletak di jalan Dasun berdekatan dengan Kali Lasem. Kelenteng ini terdiri dari 2 bangunan, bangunan altar yang berada paling dalam merupakan bangunan kuno yang sama sekali belum pernah di pugar ataupun direnovasi. Bagian luar didirikan pada tahun 1838 bertujuan sebagai aula yang digunakan untuk pertemuan dan kegiatan sosial lainnya.

67

cap go meh dengan gamelan jawa

78

kelenteng tertua

Pada perayaan Cap Gho Mei kemarin, aula depan digunakan sebagai tempat permainan gamelan. Aura percampuran antara budaya Cina dan Jawa yang begitu kental, memenuhi tempat ini. Sungguh suatu pengalaman menarik yang sanggat berharga dapat menyaksikan langsung inkulturasi budaya secara aktif. Salah satu bentuk toleransi dan keakraban antara suku dan agama yang patut ditiru oleh seluruh bangsa Indonesia.

Di jalan Dasun selain terdapat kelenteng tertua juga terdapat rumah jangkar yang persis bersebelahan dengan kelenteng. Rumah ini merupakan rumah pekarangan ala Tionghoa. Rumah pekarangan merupakan rumah yang dikelilingi dengan tembok dan terdapat beberapa paviliun-paviliun di dalamnya yang memiliki fungsi masing-masing. Secara garis besar rumah tesebut terdiri dari 2 bagian, rumah tinggal dan rumah inti.

71

altar di rumah jangkar

72

jangkar peninggalan

Rumah inti berada di depan rumah tinggal dan terdiri dari pendopo depan untuk menerima tamu, ngetia tempat meletakan altar dan cinpin tempat meletakan abu jenazah yang berada di belakang ngetia. Di samping kiri dan kanan ngetia terdapat bangunan samping yang biasanya digunakan untuk meletakan patung dewa dewi, perlengkapan upacara ataupun tempat usaha. Di rumah jangkar salah satu bangunan samping dulunya berfungsi sebagai ruang candu. Ini dibukikan dengan adanya sebuah gorong-gorong tua yang terhubung langsung ke sungai Lasem. Pada zaman dahulu, candu masuk ke rumah saudagar-saudagar Tionghoa melalui gorong-gorong menggunakan sampan kecil langsung dari Sungai Babagan lasem.

73

kuburan di belakang rumah jangkar

Seperti namanya rumah ini menyimpan jangkar yang dipercaya sebagai peninggalan dari laksamana Ceng Ho. Tak ada yang bisa memastikan kebenaran dari legenda tersebut, kecuali jangkar tua penuh lumut yang menjadi saksi bisu sejarah. Di samping rumah tinggal juga terdapat kuburan leluhur. Saat ini rumah tersebut dimiliki oleh Bapak Subagyo (50) yang merupakan generasi ke-enam. Pada saat ini rumah jangkar tidak digunakan untuk tempat tinggal melainkan dirawat sebagai salah satu situs budaya di Lasem. Rumah jangkar telah direnovasi pada tahun 2010, perbaikan terbesar dilakukan pada struktur kayu rumah yang mulai lapuk.

Kota kecil di pantai utara Jawa ini sebenarnya punya sejarah yang cukup panjang. Lasem pernah menjadi salah satu kadipaten Majapahit pada 1351M, pernah menjadi kota pelabuhan yang jaya oleh perdangan candu serta dikenal sebagai ‘La Petlit Chinoris’ atau Tiongkok Kecil oleh orang Perancis. Tak banyak sisa dari kejayan tersebut, hanya bangunan-bangunan kuno berarsitek tionghoa yang menjadi saksi bisu berdiri tegar menantang masa.

Salah satu rumah berarsitek Tionghoa yang cukup unik adalah milik Opa Lau Kim Guan (86). Berbeda dengan rumah jangkar yang terawat, rumah opa sungguh memprihatinkan. Kursi reot, lemari tua, TV kuno, foto buram, majalah kadaluarsa semuanya sungguh memberi atmosfir sejarah yang kental. Rumah dan pemiliknya seperti tersisihkan dari segala modrenitas yang ada, berjuang untuk tetap bertahan hidup melawan arus waktu.

19

opa lau kim guan (86 tahun)

18         

Legenda menarik lainnya tentang etnis Tionghoa di Lasem berkisah tentang marga Han. Menurut kepercayaan etnis Tionghoa yang bermarga Han, Lasem adalah kota larangan. Orang bermarga Han dilarang untuk menginjakan kaki apalagi tinggal di Lasem. Kepercayaan ini terus diceritakan secara turun temurun, dari kakek kepada cucu, bapak kepada anak. Ada berbagai versi cerita tentang marga Han, satu dan lainnya punya perbedaan dan persamaan tersendiri. Cerita mana yang paling benar, sungguh tak ada yang dapat menjawabnya.

Menurut Bapak Gandhor Sugiharto (68) asal cerita tersebut bermula dari seorang Tionghoa bernama Han Hwe Seng yang mempunyai 5 orang anak. Dua anak lelaki Han yang bernama Han Te Soe dan Han Te Ngo sangat senang menghambur-hamburkan uang dan berjudi. Suatu waktu sang bapak sakit keras dan tak ada lagi uang untuk berobat. Anak-anaknya memutuskan untuk meminta sumbangan kepada para tetangga untuk uang berobat sang ayah. Setelah uang terkumpul kedua anak laki-laki Han tersebut malah menggunakannya untuk berjudi hingga akhirnya sang ayah meninggal.

Pada saat penguburan sang ayah turunlah hujan yang sangat deras, sehingga mereka memutuskan untuk meninggalkan peti sang ayah di samping lubang kubur dan akan menyelesaikan penguburan besok saat hujan telah reda. Keesokan harinya betapa terkejut mereka karena di tanah tersebut telah berdiri sebuah makam tak bernama. Dari arah makam kemudian terdengar kutukan sang ayah yang melarang semua marga Han untuk tinggal ataupun datang ke Lasem. Sejak saat itu tak ada orang bermarga Han di kota Lasem. Percaya atau tidak, seorang teman bermarga Han yang berada di Kudus mendengarkan larangan yang sama langsung dari kakeknya.

83

salah satu jalan di lasem

Selain kaya dengan bangunan dan sejarah Tionghoa, Lasem juga memiliki kopi dan batik yang luar biasa. Budaya minum kopi dan membatik di Lasem merupakan bagian dari masyarakat Lasem. Di sini dikenal nama Kopi Lelet, setelah kopi hitam selesai dinikmati maka tibalah waktunya untuk melelet kopi pada rokok. Yang dimaksud dengan melelet adalah membatik dengan kanvas rokok dan tinta dari ampas kopi. Menurut masyarakat Lasem, rokok yang telah dilelet menjadi lebih wangi dan lebih nikmat. Tertarik mencoba Kopi Lelet Lasem dan bertandang ke Kelenteng tertua di Nusantara? Jangan ragu untuk mengunjungi kota kecil sederhana yang pasti sukses membuatmu terhanyut dalam sejarah.

84

kopi lelet : membatik dengan media kopi dan rokok

70

Peta kawasan kota tua lasem

Dago, 2013-3-12 ( 01:22am)

Ivy

*biru menuturkan sejarah

Advertisements

2 thoughts on “[History] Lasem : Le Petit Chinois

  1. Pingback: Saksi Bisu | It's Just Me n a Big World...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s