Legenda di Tanah Para Dewa


 

Berkesempatan menginjakkan kaki di dataran tinggi setinggi~1800 m di atas laut ini sungguh sebuah pengalaman hebat yang tak akan terlupakan. Dihantarkan dengan gerimis hujan dan sepoi angin yang menusuk hingga ke tulang, saya tiba di Dataran tinggi Dieng. Dataran tinggi yang konon katanya adalah tempat bersemedinya para dewa. Hal ini diperkuat dengan asal muasal  nama dieng itu sendiri yang berasal dari bahasa sunda kuno. Di yang berarti tempat atau gunung, dan hyang yang berarti dewa, tempat para dewa.

Hal pertama yang menarik perhatian adalah banyaknya lahan pertanian yang terhampar di kiri dan kanan jalan. Ini seperti menegaskan tentang mata pencaharian penduduk dieng yang adalah bertanam. Hijau diselimuti dengan semilir putih kabut, sungguh pemandangan yang indah. Memasuki Dieng membuat hati begitu damai dan tentram, seakan memasuki kawasan yang terisolir dari kegaduhan dunia luar, khusyuk.

Sangat banyak objek wisata yang punya latar belakang menarik yang bisa dikunjungi di Dieng ini. Namun keterbatasan informasi kadang-kadang membuat para pelancong mengurungkan niatnya untuk datang, sungguh disayangkan. Memang tidak akan kita temukan hotel mewah dan megah di sini, tapi ada rumah-rumah hangat penduduk yang bersedia menampung para pelancong dan sekedar berbagi cerita, seperti di homestay edelweis yang saya tempati.

Tempat pertama yang saya datangi adalah kawasan candi Arjuna yang paling dekat dengan pemukiman penduduk. Tak sampai 10 menit kita sudah bisa menikmati pemandangan indah tersebut. Kawasan candi ini dipercaya sebagai tempat yang dulu digunakan para dewa untuk tinggal. Keunikan dari beberapa Candi di sini adalah memiliki lingga dan Yoni sehingga dapat mengalirkan air hujan yang tertampung. Serta tentu saja candi-candi itu juga dibangun hanya dengan menumpuk batu-batu dan dibuat seperti berpasak persis seperti Candi Borobudur.

                     

               Candi Arjuna                                                               

         

Kawah Sikidang        

Tempat selanjutnya yang saya kunjungi adalah kawah Sikidang, ada cerita menarik mengenai penamaan kawah ini. Konon katanya dahulu kala hiduplah seorang Putri Sinta Dewi yang cantik jelita. Putri ini ingin dilamar oleh seorang pangeran berkepala kijang yang memiliki kekuatan sihir bermana Kijang Garungan. Untuk menolak lamaran tersebut, sang putri memberi syarat untuk membuat sebuah sumur. Ketika Kijang garungan sedang menggali sumur, orang-orang suruhan putri tersebut menimbun Kijang garungan hingga tewas. 3hari kemudian dari dalam sumur terjadi ledakan dan terbentuk kawah. Kawah tersebut dikenal dengan nama Sikidang karena ledakan yang terjadi di kawah ini berpindah-pindah seperti seekor kijang yang terus mencari sang putri.

Berbeda dengan Kawah Sikidang yang berpindah-pindah, Kawah Sileri lebih besar dan airnya juga bewarna hitam. Kawah Sileri juga menyimpang legenda tersendiri. Alkisah hiduplah seorang nenek yang punya kekuatan sihir di suatu desa. Suatu waktu salah seorang penduduk mengalami sakit yang aneh dan si nenek dituduh telah menyebarkan penyakit terhadap orang tersebut. Nenek yang marah tersebut kemudian naik ke gunung dan menyepi. Nenek memasak nasi dan membuang air bekas nasi (leri) tersebut ke desa yang tepat berada di bawah gunung. Desa tersebut terbakar habis dan meletus sehingga terbentuklah kawah Sileri.    

                                                       

                                kawah Sileri,                              

  Telaga Merdada

Selain menyimpan cerita tentang kawah, Dieng juga menyimpan banyak cerita tentang telaga. Salah satunya Telaga Merdada. Telaga ini mengisahkan tentang dua bersaudara sang kakak yang bernama Notoyudho dan sang adik yang bernama Mangkuyudho yang sedang unjuk kebolehan. Mereka berlomba untuk mebuat telaga, sang kakak membuat telaga di bawah dan sang adik membuat telaga di atas bukit. Namun sang kakak curang dan membocorkan telaga sang adik yang ada di atas dan mengalirkan airnya ke telaga merdada, sehingga telaga adik yang ada di atas bukit dikenal dengan nama Telaga Wurug (gagal) karena kering dan tak ada air barang setetespun.

Masih ada objek-objek wisata lain yang juga punya segudang legenda masing-masing, seperti Sumur jalatundra, Telaga warna, Telaga Pengilon, Telega Cebong, Tuk Bimo Lukar dst. Bagi pecinta curug juga pastinya tak akan menyesal untuk menyempatkan diri berkunjung ke curuq Sikarim. Perjalanannya cukup ekstrim, tapi sebanding dengan hasil yang didapatkan.

                           

                                                      Curuk Sikarim                                                 

Gunung bertopi salju

Matahari terbit di Dieng katanya juga tak kalah indahnya dari Bromo, seakan melihat negeri di atas awan. Tapi sayang saya tak berkesempatan melihatnya langsung karena tertutup kabut, yang saya dapatkan gunung dengan topi kabutnya, menarik. Namun saya pikir tak apa, mungkin itu bisa jadi alasan kuat lainnya membuat saya kembali berkunjung ke tempat para dewa ini.

Ini adalah scenary yang paling saya sukai selama perjalanan ini , tentu saja dengan tidak mengecilkan scenary yang lain. Langit birunya yang cerah begitu menggoda sungguh membuat saya jatuh cinta, silah menikmati.

                    

  Telaga Menjer

Bandung,2011-01-14

Ivy

*biru masih dalam euforia perjalanan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s