Perahu Emas yang mengarungi waktu..

Diiringi lagu nothing gonna change my love for you, pasangan yang begitu berbahagia dan dipenuhi dengan haru dan tatapan kagum semua mata di dalam ruangan itu memasuki ruangan. Ini bukan sebuah pesta pernikahan biasanya, karena pengantinnya telah sangat berumur namun tak mengurangi kemesraan mereka. Semua ritual dan tata cara pengantin pada umumnya dilakukan juga oleh pasangan tua yang sangat berbahagia ini. Potong kue dan saling bersuapan dengan lagu from this moment, sungguh benar-benar membuat suasana ruangan itu diliputi luapan perasaan.

 

Ada letupan perasaan lain ketika melihat oma dan opa tersebut melakukan weding kiss keduanya. Jelas bukan hitungan yang benar, mengingat mereka telah punya 7 anak dan 13 cucu. Rasa haru yang tak kunjung pergi melihat pasangan berbahagia itu. Hal yang dialami oma dan opa ini sungguh hal yang terbilang cukup jarang bisa dirasakan oleh pasangan-pasangan yang ada di muka bumi ini. Bahtera pernikahan mereka telah mengarungi waktu selama setengah abab, tepat pada hari ini.

 

Kawin cerai bukan lagi hal yang aneh buat sebagian kalangan. Hari ini cerai, minggu depan nikah lagi. Perkawinan yang pada saat ini, hanya dianggap sebagai salah satu cara untuk mendongkrak pamor atau sekedar wadah untuk menghalakan segala nafsu yang ada. Tak ditemukan lagi arti kata kesucian dan komitmen yang selama ini dipercaya menjadi dasar dari sebuah perkawinan. Tapi oma dan opa ini, sungguh membuka mata saya. Setengah abad pastinya bukan waktu yang sebentar. Mereka memperlihatkan masih ada pasangan yang mampu menjaga janji suci yang telah diucapkan 50 tahun lalu, 17 mei 1959.

 

Ketika ditanya kepada oma dan opa tentang resep dan rahasia bisa bertahan mengarungi lautan waktu begitu lama, 3 mutiara jawab oma dengan singkat. 3 mutiara yaitu saling terbuka, saling menghormati dan saling menahan emosi tutur oma dengan penuh senyum. Panas dilawan dengan panas, tajam dilawan dengan tajam tak akan pernah terselesaikan, butuh ada yang belajar mengalah. Mengalah tak selamanya berarti kalah.

 

Pesta tersebut benar-benar diliputi dengan kebahagian dan haru yang berlimpah bagi seluruh keluarga besar tersebut. Anak-anak yang begitu bangga menjadikan orang tua mereka sebagai panutan. Cucu-cucu yang berlomba-lomba menyanyikan lagu untuk oma dan opa mereka. Jika melihat pasangan pengantin baru, ada rasa turut berbahagia bersama mereka. Namun melihat pasangan yang telah 50 tahun mengarungi bahtera rumah tangga, sungguh membuat kagum. Melihat dan mendengar langsung kisah mereka sungguh membuat bermimpi, setidaknya saya. Mimpi bisa merasakan hal yang sama dengan mereka.

 

“Akh.. betapa beruntungnya oma dan opa tersebut!” ucap batin saya. Inilah salah satu contoh perwujudan kasih yang begitu nyata. Bahtera yang telah mampu melewati badai dan topan selama setengah abad dan sekarang kembali membawa emas bagi seluruh keluarga besar. Tebakan, pesta ini adalah keingin dari anak-anak mereka. Luapan rasa bahagia yang ingin dibagi dengan semua tamu undangan. Merayakan Perahu Emas orang tua mereka yang telah selamat mengarungi waktu.

Terima kasih untuk haru yang dibagi kepada para undangan. Terima kasih untuk kembali mengingatkan bahwa kekuatan cinta dan kasih itu masih ada di tengah krisis moral dan kepercayaan yang tengah melanda dunia. Terima kasih untuk segurat mimpi indah yang diberikan siang ini. Semoga cerita ini bisa jadi panutan dan mimpi bagi kita semua. Semoga perahu-perahu kita nantinya juga bisa berubah menjadi emas seperti punya oma dan opa ini. Amien..

 

 

Padang, 17-05-09

Ivy

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Perahu Emas yang mengarungi waktu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s